Senin, 28 Desember 2015

REUNI DI RESTO MAHAMERU 26 DESEMBER 2015




Dalam rentang waktu 27 tahun, kami baru bisa bertemu dalam acara temu kangen alumni SPGN 1 Surabaya angkatan 1988. banyak hal yang menjadi bahan cerita tatkala kami bersua, ada yang datang dari Pekan Baru, Bogor, Jombang, NTB, Madura, dan banyak kisah yang menempa mereka dan menjadi oran-orang seperti sekarang. Dulu kami satu sekolah, sekarang kami mengamdi pada bidang masing-masing, meskipun sekolah kami adalah sekolah guru, tidak semua kawan kami jadi guru, bahkan ada yang menjadi anggota DPRD Gersik (Nur Cholib), ada yang jadi pengusaha ( Nurhadi ) bahkan jadi orang biasa tapi luarbiasa juga banyak.yaitu menjdi ibu rumah tangga yang mulia.

Sabtu, 10 Oktober 2015

HAMPA LURUH

Kala kehampaan menerpa
Seakan semua jadi sirna
Karya tak kunjung ada
Hanya fana yang menganga

Kala waktu mengejar tiada henti
Rasa pilu menjemput mati

Kala simpul tiada terurai
Jalan pintas menerawang dan menjuntai

Kala hati beku membiru
Lidahpun kaku untuk menyeru

Hampa dalam hingar bingar
Hampa dalam api yang memijar

Seruling dan dawai seakan tak menyentuh
Bak perahu yang tak dikayuh

Tuhan.....Hanya Padamu aku luruh

Jumat, 14 Agustus 2015

WORKSHOP ECO SCHOOL DI SMAN 3 SURABAYA

Pada tanggal 11Agustus 2015 bertempat di SMAN 3 Surabaya mengikuti workshop Eco School yang diselenggarakan oleh Tunas Hijau Indonesia. Dalam acara itu masing-masing peserta mempresentasikan prioritas kegiatan Eco School yang akan di lakukan, Terutama yang berkaitan dengan lingkunan hidup.

Pada kegiatan ini SDN Tanah Kalikedinding I diwakili oleh Ester, siswa kelas VA.

Selasa, 14 April 2015

Dalam Rentang Waktu




Jauh sebelum Indonesia ada
Jauh sebelum Indonesia merdeka
Benih-benih kebersamaan sudah bersemayam dalam dada
Benih-benih persatuan mengikat Nusantara

Putri Sima memberi contoh keadilan  memerintah
Gunadharma membangun Borobudur nan megah
Gajah Mada mengucap sesanti dengan sumpah
Empu Tantular menulis Bhineka Tunggal Ika dengan Indah

Ketika Nusantara hidup dijajah
Rasa persatuan semakin menggelora
Diponegoro menggelorakan hidup merdeka di Jawa
Patimura mengorbankan jiwa di tanah Beta
Tuanku Imam Bonjol pantang menyerah di Padang Sumatera
Hasanudin bagaikan Ayam Jantan  yang tak mudah menyerah
Antasari menyalakan api yang membara di Banjarmasin nan gagah
Cut Nyak Dien membelah hutan belantara di serambi Mekah

Jauh hari di tahun 1908
Budi Utomo mulai menyapa
Jong Java
Jong Sumatera
Jong Selebes
Jong Islamiten Bond
Jong Betawi
Jong Ambon
Semua bahu membahu
Untuk menyatakan diri menjadi satu
Hanya ada satu kata
Pemuda Indonesia
Berikrar satu nusa, satu bangsa, satu bahasa
Indonesia……….

Jiwa sumpah pemuda  merasuk dalam tulang dan darah
Bagaikan sel-sel yang tak terpisah
Semakin dikoyak dan dibelah
Semakin menyatu tak terpisah

17 Agustus 1945
Soekarno – Hatta menggemakan proklamasi seantero dunia
Dunia menjadi gempar
Penjajah menjadi tergelapar
Banyak yang mati terkapar
Walau Surabaya bersimbah darah
Walau Medan Area merana
Walau terjadi perang Ambarawa
Indonesia merdeka tetap ada

Kini zaman sudah berubah
Hanya persatuan dan kesatuan yang menjadi pusaka
Reformasi telah niscaya
Pemerintah harus membuka mata
Keadilan harus menjadi panglima
Tak peduli itu siapa
Yang salah harus masuk penjara
Rakyat jelata bisa bicara
Menuntut haknya yang lama di lupa
Indonesia menjadi jaya
Kalau pemerintah dan rakyat bisa menyatu
Bahu membahu
Bergotong royong membangun negeri yang satu
Indonesia Tanah Air Beta


Suarabaya, 14 April 2015
Janny M.

In the Time Range

Indonesian Long before there
Long before Indonesia's independence
The seeds of togetherness has been residing in the chest
The seeds of unity binding Archipelago

Daughter Sima gave an example of justice ruled
Gunadharma build magnificent Borobudur
Gajah Mada sesanti give the oath
Tantular writing masters of national unity with the Beautiful

When life colonized the archipelago
Sense of unity increasingly tempestuous
Diponegoro inflame independent living in Java
Pattimura sacrificing their lives in the land of Beta
Tuanku Imam Bonjol unyielding in Padang Sumatra
Hasanuddin like Roosters are not easily give up
Antasari lit a fire burning in Banjarmasin nan gallant
Cut Nyak Dien splitting wilderness in the foyer Mecca

Long ago in 1908
Budi Utomo began greeting
Jong Java
Jong Sumatra
Jong Celebes
Jong Islamiten Bond
Jong Betawi
Jong Ambon
All shoulder to shoulder
To claim to be one
There is only one word
Indonesian Youth
Vowed one country, one nation, one language
Indonesia ..........

Soul oath youth pervasive in bone and blood
Like cells do not separate
The more torn and split
Increasingly integrated inseparable

August 17, 1945
Soekarno - Hatta proclamation echoed throughout the world
World in an uproar
Invaders became tergelapar
Many of the dead lying
Although Surabaya bloody
Although Medan Area languish
Although there is a war Ambarawa
Remain independent Indonesia


Now times have changed
Only the unity that become heirlooms
Reform has undoubtedly
The government should open the eyes
Justice must be commander
No matter that anyone
Which one should go to jail
Rabble could talk
Demanding their rights in a long forgotten
Indonesia became victorious
If the government and the people can come together
Shoulder to shoulder
Worked together to build a country that is one
Indonesia Tanah Air Beta


Suarabaya, 14 April 2015
Janny M

Kamis, 02 April 2015

SELAMAT JALAN SOBAT




Pak Yudha, salah satu guru IT di SDN Tanah Kalikedinding I-251 alih profesi menjadi karyawan swata di salah satu perusahaan tekstil yang juga menangani masalah IT di perusahaan tersebut. Semoga sukses Pak.

DI DEPAN NUR PASIFIC

Dalam rangka RAT Koperasi Dwija Karya Kecamatan Kenjeran, seluruh anggota kopersi berkumpul di Rumah Makan Nur Pasific Gubeng . Kami dari keluarga besar SDN Tanah Kalikedinding I juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Selasa, 10 Maret 2015

PENDIDIKAN

Pendidikan
Aku larut dalam samudra pendidikan
Ombaknya menenggelamkanku ke dasar pengajaran
Dari waktu-ke waktu beku dalam kesunyian
Semakin dalam aku terhenyak
Banyak tangan-tangan gurita saling berebut
Menikam, memfitnah, semua bikin celaka
Ini samudra kemuliaan
Yang semestinya di arungi dengan senyum kebahagiaan
Perahu layar sudah berkembang
Pantang biduk untuk kembali
Ini tugas kemanusiaan
Membangun anak-anak negeri
Dengan hati kita bekerja
Tidak sekedar kata-kata
Akan tetapi keteladanan patut kita tunjukkan
Nun jauh di hutan belantara
Anak-anak negeri tertinggal jauh dari aksara
Menulis namanya saja tidak bisa
Apalagi menyelesaikan rumus-rumus matematika
Akan tetapi mereka lebih bijaksana
Mengolah sumber daya alam yang ada
Daripada penghuni belantara gedung-gedung pencakar langit di kota-kota
Saling sikut, membunuh demi kursi singgasana tahta dunia
Disana duduk para mavia yang tidak mempedulikan rakyat jelata
Gedung sekolah ditelantarkan
Biaya pembangunannya di gelembung kan
Inikah samudra yang aku arungi ?
Airnya sudah tidak jernih lagi
Surabaya, Selasa 3 Maret 2015

Education

I dissolve in the ocean education
The waves drown to the basic teaching
From time to time, frozen in silence
The deeper I sank
Many hands octopus fight each other
Stabbing, defamatory, all make wretched
This ocean of glory
Which should in navigating with a smile of happiness
Sailboat has been developed
Abstinence river craft to return
The task of humanity
Build children country
The heart of our work
Not just words
But the example we should point out
Far away in the wilderness
Children country lags far from script
Write the name alone can not
Let alone resolve mathematical formulas
But they are more discreet
Processing of existing natural resources
Than the wilderness dwellers skyscraper buildings in cities
Elbow each other, killing for the sake of the throne's throne
There sat the mavia who do not care about ordinary people
Abandoned school building
The cost of construction in the bubble
I Cross the ocean is this?
the water is no longer clear
Surabaya, Tuesday, March 3rd, 2015

CINTAKU HANYA SATU


Detik boleh berganti menit
Menit boleh berganti jam
Jam boleh berganti hari
Hari boleh berganti minggu
Minggu boleh berganti bulan

Bulan boleh berganti tahun
Tapi ada satu yang tak boleh berubah
Yaitu cintaku padamu
Laut boleh bergelombang
Gunung boleh menggelegar
Petir boleh menyambar-nyambar
Kilat boleh saling bersautan
Tapi cintaku hanya satu
Untukmu seorang
Seperti bulan yang setia mengitari bumi
Seperti bumi yang setia mengitari matahari
Tak berubah selamanya
Walau sedetikpun
Cintaku tak kan lekang dimakan waktu
Cintaku tak kan pudar dimakan usia
Cintaku hanya satu
Hanya untukmu seorang
Karena.................
Engkaulah yang melahirkan tiga singa perkasa
Engkaulah yang memberi sepirit ketika aku duka
Engkaulah yang memberi secawan kenikmatan dimalam gelap gulita
Engkaulah yang menabur benih-benih keberanian melawan kegelisahan
Engkaulah yang menyalakan api dalam kegelapan
Engkaulah seruling merdu yang melantunkan irama orkestra
Engkaulah bunga melati yang semerbak mewangi
Engkaulah perencana ekonomi dalam kesulitan
Cintaku hanya satu
Hanya untukmu seorang


Love Only One

seconds may change minute
minutes may change hours
hours may change day
day be turned into weeks
be weeks turned into months
months of the year may change
but there is one that can not be changed
namely my love for you
be wavy sea
be jarring mountain
lightning may grabbing
may express shouted to each other
but love only one
you a
like the moon around the earth faithful
as the earth revolves around the sun faithful
was changed forever
even for a second
not love the timeless
love does not fade with age right
love only one
just for you a
because of .................
For you who gave birth to three mighty lion
sepirit when you were giving me grief
you were given a cup of pleasure On the night pitch black
For you who sow the seeds of courage against anxiety
For you who kindle a fire in the dark
For you sang melodious flute orchestra rhythm
thou fragrant jasmine scent
thou economic planners in trouble
love only one
ust for you throughout the
Surabaya, Monday, March 9th, 2015

SUASANA SENAM PAGI DI SEKOLAH


Setiap pagi hari Selasa sampai Jumat, anak-anak kelas I-VI mengikuti senam ceria dipandu oleh guru olahraga. Kegiatan ini bermaksud memberi penyegaran kepada anak-anak agar sehat dan peredaran darah menjadi lancar, suplai oksigen ke otak semakin lancar, belajarpun menjadi nyaman.

Selasa, 24 Februari 2015


Antara Dua Anak Negeri

Relung-relung hati,sumsum tulang belakangku tertusuk jarum kemunafikan
Gerak-gerik tubuh terbatasi oleh geliat penghianatan
Aroma penghancuran norma-norma tercium sampai kelpelosok negeri
Bak bau bunga bangkai yang mengundang lalat-lalat berterbangan
Dua anak kandung negeri saling menghujam belati di dada sanubari
Hilang akal
Hilang naluri
Keangkuhan Istana tak kunjung beraksi
Sabar-sabar... kata yang terucap dari sang Pemimpin
Bergejolak.....
Mengelegak.....
Ruyam durjana ditelan nafsu serakah

Burung-burung pemakan bangkai kian bersorak
kian bebas menyerang dan menerkam
Karena.......
Pedang keadilan telah berpihak
Tajamnya hanya untuk sang duafa
Dalil-dalil hukum telah dapat terpatahkan
Tak berlaku bagi yang empunya
Sabda sang Ulama kian tak diperhatikan
Bahkan dianggap gila nestapa
Pembawa lencana kian meradang dan menerjang
Mencari seribu sasaran untuk dikriminalkan
Dulu kawan sekarang lawan
Tak peduli walau sang pemimpin telah menitahkan
Hentikan.....
Hentikan.....
Semua tak punya arti
Kini keputusan telah diuji
Tinggal menunggu hari
Sampai kapan ini berati
Karna sudah tak berarti harumnya bunga melati
Salah Ucap

Bilur-bilur biru membekas dalam hati
Kata-katanya bak cemeti yang melecuti
Menhujam tajam sangat menyakiti
Menyayat pedih mengiris-iris bak belati

Huruf-demi huruf
Kata-demi kata
Kalimat-demi kalimat
Tersususun dalam sebuah paragraf
Terucap dari bibir yang pernah mengucap sahadat
Menyeruak merusak suasana yang dibangun berpondasikan basmalah
Hancur berkeping-keping tak bermakna
Iri, dengki, curiga, angkuh, sombong itulah penyebabnya
Pondasi yang dibangun kokoh, kini retak bak terkena gempa
Pilar-pilar penyangga goyah yang sebenarnya tak diinginkannya
Dinding-dinding penguat kini sudah tak nyaman
Atap-atap peneduh kini sudah berlubang
Janji prasetia kini sudah tak bermakna
Hati-hati yang menyatu kini tlah renggang berjarak
Tingkah polah kini tlah berubah
Mengelana dalam dunia fatamorgana
Mencari sensasi demi harga diri yang sebenarnya tak punya arti
Mengembara semakin tak peduli
Kalimat-kalimat hina sering terucap
Bak kapak membelah kayu jadi dua
Tak terpikir apa akibatnya
Ini semua terjadi karna salah ucap dalam berkata-kata


Surabaya, Minggu 22 Pebruari 2015
Ia Masih Belia

Di usia yang masih belia
Ia sudah mengenal arti cinta
Bak orang dewasa mengelora dalam dada
Bak burung merak yang mengibas-ngibaskan sayapnya
Mencari pesona tuk menarik pasangannya
Tuk meluapkan arti sebuah cinta
Bak pengelana yang haus mengembara
Mencari pelepas dahaga

Cinta …..bukanlah hitam putih seperti dalam bayangannya
Cinta …..bukan sekerdar tertarik pada lawan jenisnya
Cinta…...adalah sebuah irama
Melantun indah nyaman tuk didengarkan
Bak konser yang merdu membuai dalam angan-angan
Di usia yang masih belia
Ia terbakar api asmara
Bak Arjuna melepaskan anak panah cintanya
Menembus relung-relung hatinya
Merasuk dalam jiwa dan raga
Membawa imajinasi dalam dunia antah berantah
Iapun terkesima oleh untaian kata-kata
Melambung tinggi terbawa alunan biola
Bak burung punai saling kejar-mengejar
Tak peduli walau rintangan berjajar
Ini zaman teknologi
Anak belia matang belum waktunya
Terinpirasi oleh dunia maya
Oleh kata-kata atau gambar yang memikat hati
Semakin dilarang iapun semakin melawan
Bak perang baratha yudha antara ia dan orang tua
Tak sadar apa akibatnya
Iapun lupa tugas dan kewajibanya
Di usia yang masih belia
Ia terjerat oleh fatamorgana
Bersolek di depan kaca bak peragawati tampil dipentas seni
Berlanggak-lenggok bak burung merpati
Ia masih belia
Yang mestinya belajar mengejar impian
Meraih prestasi
Tuk mengharumkan ibu pertiwi


Surabaya, Selasa 24 Pebruari 2015