Senin, 24 September 2012

Kesunyian di Sampang

Sunyi itu merasuki tulang sumsum
ditemani temaran rembulan setengah jadi
cahyanyapun tak utuh lagi
sesekali suara binatang malam menyeruak terdengar
kan tetapi kesunyiakan itu masih terasa

malam semakin larut
pesona gemintang di langit membentuk formasi
lidah ini terasa keluh tuk berucap
hanya degupan jantung yang masih terasa
mengaliskan darah dalam pembulu

manakala kesunyian itu mersuki jiwa
hanya ada aku dan Dia
untuk saling bertegur sapa
tentang suasana hati yang sunyi
yang lama memendam tiada terperi

aku merenung tentang negeri ini
mengapa seribu masalah silih berganti
setelah kerusuhan disana-sini
kenapa harus ada teror yang semakin menjadi

anak-anak menangis dan merintih pedih
rumah-rumah terbakar
ibu-ibu terasa pilu
menanti kepastian yang tiada kunjung datang

malam semakin rayap
kesenyapan itu pecah
suara bayi menangis
sakit, pedih, karna gizi kurang terpenuhi




Selasa, 18 September 2012

Anak-anak yang rindu kedamaian

Deru reformasi mengerus NKRI
Roda-rodanya mengilas tanpa batas
Semua serba terbuka
Kan tapi penyelesaiannya yang tiada
Anak-anak Sampang terusir dan masuk gelanggang
Bermain siang dan malam
Tiada mengerti apa yang terjadi
Ada darah yang sudah tersimbah
Ada nyawa yang sudah direngutnya
Belum lagi harta benda yang di bakar massa
Kini kepastian belum juga datang
Akan kemanakah gerangan
350 jiwa yang ada di pengungsian
Jenuh, penat itu sudah menjadi kebiasaan
Seakan waktu yang menunggu

Oh.......... dimana keadilan dari dewi reformasi yang dulu dinyanyikan
Oh............dimana keadilan yang ada dalam butir Pancasila
Oh.............dimana hukum yang yang tertuang dalam UUD 1945
Oh...............dimana para bijak yang waktu kampanye menebar janji

Kini anak Sampang merindukan kedamaian yang telah tergadai