Minggu, 28 Juni 2009

GRAND FATHER AND MOTHER

Ini ayah dan ibu dari istri saya yang bernama Bapak Suwandi Thohari dan Ibu Maryam

MY WIFE


It is my wife.She is a beatiful and elegand.I am love always my wife

HASAN LAGI MEJENG


Di Pantai Pacitan,Jawa Timur.Hasan sedang mejeng di depan kamera dengan latar belakang Pantai Pacitan. Deburan ombak yang menerjang seakan menjadi hiburan sendiri bagi anak-anak.Sejauh mata memandang yang terlihat hanya laut selatang yang memanjang.

HUSAIN BERMAIN

RONA

DERAI ANGIN SEMILIR DI PENGHUJUNG JALAN
RONA-RONA KEHIDUPAN PANJANG MEMAJANG
UNTAIAN KATA SALING BERSAUT DAN MEMBALUT
WAJAH-WAJAH MERONA MENGHIASI MUKA
ONAK DAN DURI PERNAH TERLUKIS DI DIRI
SILANG PENDAPAT JADI AROMA
MENCARI SOLUSI DALAM DEKAPAN JIWA
ANTARA REALITA DAN IDEA
BERTOLAK BELAKANG MENCARI NYAWA
PERJALANAN MASIH PANJANG
HARI-HARI MASIH MELAJU
WAKTU ADA DI MATA
PERJANJIAN MASIH TERTERA
USIA MASIH BERSELIMUT
MUTIARA JADI TUMPUAN KEDEPAN
SANG MAULA JADI SANDARAN

Kamis, 04 Juni 2009

Refleksi Diri

REFLEKSI DIRI
Jumat Kliwon, 22 Mei 2009.Pukul 24.00 setelah aku melihat beberapa adegan film TROY di Trans TV,aku jadi berfikir,sebenarnya aku sekolah lagi ini untuk apa ?,apakah sekedar formalitas saja atau untuk sesuatu yang aku sendiri tak tahu maksudnya. Aku merenung dalam malam yang semakin merangkak,aku seakan seperti punguk merindukan bulan. Aku yang sudah mendapatkan sesuatu yang berharga seakan berpaling pada sesuatu yang penuh dengan ke tidak pastian. Betapa bodohnya aku seandainya menghancurkan sesuatu yang berharga yang aku miliki itu. Tidak semua orang memiliki seperti yang aku miliki. Sementara milik orang lain itu sudah menjadi hak orang yang punya, apapun yang terjadi padanya orang lain tak punya hak atasnya itu. Aku masih terobsesi dengan masa lalu yang aku sendiri tak tahu kepastiannya. Apa yang ada di benak bayang-bayang masa lalu tersebut ?. Sebenarnya aku sendiri tak terlalu dekat dengan angan-angan yang membius itu. Dia bagian dari masa lalu. Kini aku harus menatap masa depan yang ada di depan mata.
Jam dinding terus berdetak seakan tak pernah berhenti sepanjang waktu. Malam semakin sepi hanya suara binatang malam yang selalu mencari makan di lorong-lorong jalan atau selokan. Sesekali suara sepeda motor yang lewat terdengar kencang. Burung malam memperdengarkan suaranya berciut-ciut mengitari angkasa. Ini adalah malam Jumat dimana pintu rahmad dibuka untuk orang-orang memohon pada-Nya. Ini waktu yang tepat untuk bermunajat pada-Nya. Ini malam perenungan bagiku untuk apa semua ini ?. Tiadakah aku bersyukur terhadap segala karunia yang telah diberikan-Nya ?. Senyap malam semakin membuatku berfikir lebih tajam tentang hakekat kehidupan ini. Aku yang sudah menjalaninya selama 41 revolusi bumi mengelilingi Matahari, seakan bayangan kebodohan masa silam masih terngiang-ngiang di telinga. Berapa banyak dosa-dosa yang telah aku perbuat selama ini ?. Apa yang aku gunakan untuk menghapus itu semua ?. Apakah dengan amal yang aku miliki tersebut aku mampu mengganti itu semua ?.Oh...... betapa rentannya aku dalam perjalanan hidupku.
Malam terus berjalan, kutatap wajah belahan sukma dikala lelap di peraduannya. Akankah aku mengecewakan dia yang setia menemani aku selama ini. 15 tahun sudah kami membangun tatanan ini, onak dan duri pernah kami lalui. Akankah aku menghancurkan harapanku sendiri ?. Sungguh tak berharganya aku seandainya ini yang terjadi. Apakah karena harapan yang tak berarti ini aku terperosok dalam kehinaan yang seharusnya dapat aku hindari. Aku masih punya peluang untuk maju dan maju untuk mendapatkan ridho-Nya. Aku harus dapat menghilangkan angan-angan yang dapat menhacurkanku sendiri. Aku harus tahu diri terhadap apa yang sudah menjadi pemberian-Nya. 3 mutiara telah lahir dari rahim yang suci, ini semua tak akan ada jikalau tak mendapat ridho-Nya. Ini menjadi tangungjawabku. Mereka yang akan menjadi penerusku. Ini yang seharusnya aku fikirkan, bukan yang lainnya.
Jam dinding sudah menunjukkan angka 1 memasuki dini dari, ada suara sepeda motor yang keras di bunyikan, setelah itu hilang tanpa terdengar. Sunyi ini membawa inspirasi tersendiri. Mata seakan sulit untuk dipejamkan, aku masih melayang dalam angan yang tak kunjung sampai. Betapa banyak uraian hal yang harus dapat aku selesaikan. Aku masih banyak punya tanggungan yang belum tunai. Jalan mungkin masih panjang, akankah aku sampai pada tujuan yang mulia, yang telah diajarkan oleh pada guru dan tetua. Kelihatanya badan ini sudah letih, mata mulai mengatup, mulut mulai menguap, dan jari lentik seakan engan untuk menuliskan apa yang ada di rongga kepala ini. Masih banyak cita-cita yang harus aku raih, demi kemuliaan yang aku cita-citakan sesuai dengan rasa idialis yang selalu menggelora. Akankah aku tetap pada nilai-nilai yang wajar, aku pernah tersandung masalah, akankah aku kesandung masalah untuk kedua kali ?. Tentu aku tidak mengharapkan seperti itu. Semua yang terjadi cukup sudah sebagai pelajaran yang sangat berharga. Aku mencoba untuk berbuat yang sewajarnya saja.
Rasa kantuk yang bergelayut semakin berat,akupun membaringkan tubuh yang lelah ini. Tak lamapun aku sudah berada pada demensi lain. Tak terasa jam dinding berbunyi 5 kali, azdan subuh sudah terdengar. Hari itu aku masuk pagi untuk menunaikan tugasku mengajar pagi. Aku masuk kamar mandi dan menggosok gigi yang sudah lama menemani aku untuk memproses makanan supaya mudah di cerna dan diserap oleh tubuh. Airpun aku guyurkan keseluruh tubuh, rasa segar merasuk ke relung jiwa seakan beban yang berat jadi hilang. Sesudah itu aku persiapan untuk bersujud pada-Nya. Dia yang senatiasa memberikan perlindungan, karunia, rizqi, petunjuk, dan sesuatu yang nampak maupun yang tak nampak. Semua itu atas rahman dan rahim-Nya. Sujud tanda kepasrahanku pada-Nya. Sujud tanda tak keberdayaan hamba pada Sang Kholiknya. Sujud tanda ketidak mampuan manusia yang hina ini akan segala sesuatu yang kadang tak terjangkau oleh akal pikiran. Aku bagaikan debu-debu yang berterbangan diantara pasir di padang yang luas. Dalam sujud kesebut nama-MU. Dalam sujud kulantunkan senandung-Mu. Dalam sujud ku buka relung hatiku untuk-Mu.
Selesai kutunaikan kewajibanku, kulanjutkan dengan senandung kalam suci yang bergelar “YASIN”. Surat ini merupakan jantung dari kitabullah. Segala sesuatu mempunyai jantung. Jantung dari kitabullah ini adalah surat “YASIN”. Dengan suara yang biasa aku lantunkan seakan aku berkomunikasi dengan Kekasihku. Aku baca ayat demi ayat yang penuh dengan nuansa spiritual, ini adalah dialogku dengan yang mengasihi aku. Ini adalah taliku pada-Nya. Ini adalah penyambung ruhaniahku pada-Nya. Aku mencoba untuk mengerti apa pesan yang terkandung didalanya. Aku coba untuk memahami frekuensi yang ada padanya. Aku yakin setiap kekasih akan selalu merindukan yang dikasihinya. Aku yakin setiap pecinta selalu mencari apa yang dicintainya. Aku yakin akan setiap munajat yang ku senandungkan selalu didengarkan-Nya.
Kini aku mulai optimis dengan segala petunjuk-Nya. Harus aku hilangkan segala rasa iri, dengki, sakit hati, rasa memiliki yang bukan haknya. Aku mencoba untuk lebih merendahkan diri, rasa angkuh dan sombong harus aku buang jauh-jauh. Aku mencoba untuk semua itu. Aku harus dapat mengahadapi kenyataan yang kadang kala tidak sesuai dengan keinginan hatiku, tapi justru itulah yang mungkin lebih baik yang telah ditentukan-Nya. Usiaku kini semakin menjelang, semestinya aku lebih matang, sehingga tiada waktu yang banyak terbuang.
Pukul 06.15 WIB aku berangkat besama permata hatiku Sang Kapten biasa dia aku panggil, nama sebenarnya adalah “Husain”. Ini adalah permataku yang ke 3, Kapten ini sudah mulai lancar membaca, meskipun menulisnya masih kurang. Aku sendiri tak terlalu memaksakan dirinya untuk lebih berprestasi. Aku ingin kesadaran itu timbul dari dalam dirinya. Sehingga menimbulan energi yang besar untuk merubah dirinya menjadi sesuatu yang sempurna. Ibaratnya aku ingin permataku-permataku mengalami metamorfosis menuju kesempunaan dengan kemampuannya sendiri sehingga memancarkan warna-warna yang indah bak kupu-kupu yang keluar dari kepompongnya. Meskipun polesan itu perlu, tetapi aku hanya memberi motivasi supaya ia mampu berdikari dengan segala potensi yan ia miliki.
Ada dua lagi permataku yaitu Si Sulung yang bernama Ali,kini ia mulai beranjak remaja,sebentar lagi ia akan memasuki bangku SMA, dia butuh perhatian juga untuk menyongsong masa depannya. Aku sebenarnya agak kecewa padanya karena hasil try out waktu ujian di SMPN 5 hancur berantakan dengan nilai yang kurang memuaskan,tapi apa mau dikata, itu sudah terjadi, aku hanya bisa melihat dan menyaksikan itu semua, mudah-mudahan ini semua menjadi pelajaran bagiku dan baginya. Aku lalu mendekati ibunya untu memotivasi pada sang sulung supaya giat belajar meraih prestasi setinggi-tingginya sehingga apa yang diharapkan dapat diraih dengan baik. Ali yang 15 tahun lalu masih dibuaian kini sudah remaja yang tinggi badannya melebihi tinggi badanku. Kata teman-temanku putraku tersebut agak lumayan juga tampangnya. Karena itulah aku sendiri agak kahawatir, bebrapa kali aku menerima telipon dari teman perempuan adik kelasnya.
Permata keduaku Si Naruto, karena ia senang membaca dan membeli komik Naruto. Dia biasa dipanggil Hasan, ia sekolah di SDM 21 depan rumah, sekarang ia kelas 4. Si Naruto ini sebenarnya lumayan juga dalam belajar,cuma aku sendiri yang kurang memberi perhatian yang lebih padanya, kadang waktuku habis untuk anak lain yang aku beri les privat. Si Naruto ini kata gurunya suka berkelahi dengan temannya,ia tak punya rasa takut walau dengan anak yang lebih besar. Pernah suatu waktu ia pulang dengan wajah penuh cakaran dan berdarah. Ibunya protes bukan main padaku. Ia berkata inilah kalau punya anak lelaki sukanya berkelahi terus. Kalau begini ini bagaimana jadinya. Aku hanya diam sambil tertawa dalam hati. Ini tak ubahnya mengulang masa laluku ketika aku masih kecil. Belara kali aku bikin malu orang tua karena kenakalanku. Sampai-sampai pernah aku berkelahi dengan anak yang lebih besar dan aku lempar dengan tanah liat yang kering terkena kepalanya dan berdarah-darah. Orang tuakupun jadi labrakan orang lain.
Di sela-sela waktu senggang aku sempat berfikir bahwa ketiga permataku tersebut adalah gambaran dari diriku sendiri, aku melihat sifat individualistik dan sosial melekat pada mereka. Kadang aku melihat kenakalannya tak jauh berbeda dengan kenakalanku dimasa anak-anak. Cuma mereka agak terkendali karena ibunya bersikap protektif dan aku sendiri juga memberi penjelasan pada mereka tentang masa depan mereka. Aku tak ingin mereka jadi liar seperti aku dulu yang seenaknya main kemana saja tanpa penjelasan.
Ya....... anak sekarang beda jauh dengan anak zamanku tentang jenis permainannya. Dulu banyak tanah lapang yang dengan bebasnya kami anak-anak zaman itu berlarian dan bermain bola atau berenang dimusim hujan di sungai-sungai yang airnya kelihatan jernih sambil mencari ikan air tawar. Sekarang ini justru banyak rental-rental play station atau PS2 yang menjadi kegemaran anak-anak,atau mereka senang ke warnet untuk main game online. Betapa paradoknya jenis permainan mereka. Aku sendiri kalau melihat si sulung main game di komputer sungguh hebat, aku tak mengerti tentang game yang sedang dimainkannya, tapi anak-anak lebih faham tentang itu. Aku menyadari bahwa terlalu lama bermain game tidaklah baik, oleh karena itu aku nasehati anak-anak supaya main gamenya di hari libur saja. Aku sendiri sangat protektif kalau sudah menyangkut jam belajar anak-anak. Aku melihat bahwa anak-anak butuh perhatian yang lebih supaya mereka lebih banyak berkomunikasi dengan kedua orang tuanya. Dengan begitu ia lebih terbuka dengan orang tuanya tentang sesuatu hal. Anak-anak lebih terbuka dengan ibunya dari pada dengan aku. Aku menyadari bahwa anak-anak kadang lebih takut dengan aku ketika akan mengutarakan isi hatinya,oleh karena itu aku meminta pada ibunya untuk menangani dalam masalah ini. Sesudah itu ibunya yang aku tanya tentang masalah yang dihadapi oleh anak-anak.