Minggu, 20 November 2011

Nopember di Surabaya

Nopember di Surabaya
bayang-banyang kelam tersembunyi dibalik pelupuk mata
beribu nyawa telah banyak di korbankan di bumi Surabaya
Peristiwa Yamato masih segar dalam ingatan
peristiwa di gedung kampetai tak kan pernah hilang
inilah surabaya
simbol kemenangan yang tak butuh pengakuan
ini menyangkut beribu nyawa putra pertiwi
yang sudah di telan bumi
hanya monumen yang kini berdiri
di tengah bumi surabaya

Nopember di Surabaya
kini tinggal kenangan
peristiwa di jembatan merah
jadi saksi keberanian
walau dia sudah berpengalaman di seribu medan pertemputan
kan tapi tewas di bumi surabaya

Surabaya
wajahmu sudah berubah
gedung-gedung tua jadi memori belaka
kini tergantikan dengan apartemen yang kian menjulang

Aku rindu

sengatan matahari menghujam kepala
terasa terik di telan duka
aku rindu hujan gemericik dikala senja
hawa teduh menjuntai di ufuk sana

ini musim sudah masuk penghujan
tapi panas mentari menyengat badan
air hujan dinanti belum datang
hanya mendung yang menggantang

aku rindu hembusan dingin angin barat
yang membawa sedikit uap
tuk ditorehkan pada si bumi
membawa keteduhan hati

aku rindu aroma hujan
yang datang di pagi menjelang
sambil minum secangkir kopi dari balik tirai jendela
menikmati teduh jiwa

aku rindu tetesan hujan
yang jatuh si hamparan sawah
merekahkan bumi yang gersang
oleh tikaman seribu masalah

aku rindu guyuran hujan
yang tak menyebabkan banjir bandang
kan tapi mengidupkan padi dan tanaman
membuat bernyanyi para ikan

aku rindu guyuran hujan
dimana anak-anak berlari mengejar banyangan
bermain dan bercanda
tak takut angin menerjang

aku rindu musimku yang telah hilang
oleh pemanasan global
yang desebabkan tangan-tangan kotor menrusak alam
mengakibatkan bencana datang