Senin, 28 September 2009

Puisi akhir September 2009

Cuaca Panas menggelayuti kota Surabaya
Terik Matahari seakan tak mampu meredupkan bulan Syawal 1430 H
Persoalan negara semakin membahana
Tarik ulur kepentingan merajalela
Shahdunya gema takbir seakan hanya lewat di telinga
Persoalan negara semakin menggeliat dan menganga
Tindak korupsi tiada henti menyeruak di media massa
Rakyat kecil dibuat terbelalak mata melihat uang milyaran rupiah digondol oleh segelintir manusia
Berkah Romadhon hanya milik manusia-manusia yang beriman dan taqwa
Walau miskin harta dan dunia

Rabu, 02 September 2009

SEBUAH TANTANGAN UNTUK PERUBAHAN DIRI

SEBUAH TANTANGAN UNTUK PERUBAHAN DIRI

Dalam awal Ramadhon 2009 ini terasa banyak tantangan yang harus aku hadapi, hal itu bermula ketika rapat dinas di tempat aku bekerja yaitu ketika Kepala Sekolah menjelaskan tentang format absen siswa yang ikut dalam tambahan pelajaran. Beliau mengatakan tentang perlunya absen itu sebagai laporan penggunaan dana Bos. Aku menanyakan tentang format tersebut yang harus di tulis tangan dan namanya siswa kalau dapat tidak urut atau dari hari yang saru dengan hari lainya tidak sama. Mengapa harus demikian ? ya katanya itu keotentikan laporan. Ini yang aku anggap aneh, untuk sebuah pelaporan yang serba canggih ini kita masih menggunakan tulisan tanggan. Singkat kata rapat tersebut jadi tegang dan ramai karena aku menanyakan secara detail tentang perintah siapa hal itu dan ada tidaknya juklak dan juknisnya. Pak Manto sebagai TU yang membuat laporan tersebut mengatakan tidak ada , tapi hal itu atas saran dari orang inspektorat. Ini yang tambah aneh bagi saya, Pak Manto malah menyatakan bahwa ini kan hanya fiktif tapi kenapa dipersoalkan. Ini menurut saya pemikiran yang sangat pendek, bahkan Bu Yamirah sebagai Kepala sekolah malah menyatakan bahwa kita sebenarnya diajari mbujuk tentang pelaporan-pelaporan selama ini. Sebelum guru diajari mbujuk, Kepala sekolah terlebih dahulu yang diajari mbujuk oleh suatu system yang lebih tinggi. Maka dengan sikapku yang keras terhadap masalah tersebut, maka ada beberapa temanku yang berpandangan negative terhadap aku, inilah yang aku anggap sebagai tantangan.
Aku sekarang ini berada pada suatu system yang pandai membuat kamuflase tentang laporan, yang tadinya “A” dapat berubah menjadi “B” karena untuk kepentingan yang sifatnya duniawi. Ini yang mungkin menyebabkan aku sangat tidak disukai oleh beberapa teman sekerja. Aku memang terlalu frontal dalam menanggapi hal-hal semacam itu, karena aku memganggap ada beberapa orang yang mencari keuntungan pribadi tanpa menhiraukan teman yang lainnya, bahkan teman yang lainya dianggap sebagai batu sandungan saja, sehingga mereka membuat kasak-kusuk tentang orang-orang yang tidak sejalan dengan mereka, termasuk aku. Aku dianggap sebagai tukang protes dan tidak peduli kepada teman, kalau menggunakan istilahnya Pak Toha bahwa aku kurang memanusiakan manusia, padahal aku sendiri sangat menyayangan dengan sumpah ketika ia diangkat sebagai PNS, sumpah untuk bekerja dengan sebaik-baiknya dan menurut undang-undang yang berlaku dan tidak bertentangan denga nilai-nilai Pancasila. Tapia apa yang terjadi setelah mereka jadi pegawai negeri ? seakan semua yang telah diraih menjadi halal semuanya.
Inilah tantanganku sekarang ini,mampukah aku menghadapi hal tersebut. Untuk sementara ini aku disarankan oleh temanku yang bernama Pak Nardi untuk lebih bersabar atau bahkan lebih baik diam menghadapi persoalan yang ada. Memang ada beberapa teman yang kasak-kusuk tentang aku, mereka selalu menilai negative terhadap semua yang aku katakan dan bahkan aku lakukan. Bahkan Bu Supi Lestari selalu mengigatkan aku untuk diam tidak berkomentar apabila ada rapat, percuma usul kalau usul itu tidak diperhatikan, yang berwenang toh bukan kita,kata Bu Supi, kedewasaanku benar-benar di uji di tahun ini, dulu mereka semua adalah teman sekarang mereka balik menusuk dari belakang terhadapku. Inilah dunia kerja. Anehnya ini terjadi di dunia pendidikan yang nota bene tugasnya mendidik generasi muda,generasi penerus bangsa. Nilai-nilai kejujuran sudah tidak laku, nilai-nilai akuntabilitas idak ada gunanya lagi. Padahal mereka semua adalah muslim. Tapi bagaimanapun juga aku masih punya harapan besar tentang hati nurani, aku merasakan kegelisahn mereka, aku lihat mereka juga tidak tenang dengan semua sepak terjangku. Aku sendiri membatasi diri untuk bercakap dengan mereka, bahkan mereka kalau ada aku datang ,satu persatu mereka pergi. Ini aku anggap sebagai tantangan tersendiri untuk membuktikan kinerjaku. Semoga aku dapat mengatasi ini semua. Aku tidak dapat mengadu pada siapa-siapa kecuali hanya pada Sang Kholik. Semoga mereka menuai apa yang mereka tanam selama ini,hanya Allah Yang Maha Tahu. 
Pada hari Jumat, 28 Agustus 2009 ketika aku lagi asyik mengajar Pak Samidi teman kerja yang mengajar kelas III B menghampiriku dan mengajak ngobrol tentang kepindahan Bu Yamirah sebagai Kepala Sekolah dan Bu Sri Purwaningsih. Aku jadi tertegun,kenapa secepat itu dan ada apa hal itu terjadi ?,tanyaku dalam hati. Pak Samidi mengatakan bahwa semua itu terjadi sesuai dengan apa yang telah beliau tanam selama ini. Aku sendiri baru tahu informasi itu dari Pak Samidi pada hari itu juga, sebelumnya aku tak tahu sama sekali. Hari berikutnya berita itu semakin di kuatkan oleh Bu Sri sendiri, Bu Yamirah dan Bu Ria. Bahkan Pak Samidi menjelaskan kalau Bu Yamirah di pindah ke daerah Dupak, sedang Bu Sri dipindah menjadi Kepala sekolah di daerah Manukan, Tandes. Sedangkan yang menjadi kepala Sekolah di SDN Bulak Banteng I-263 masih belum tahu,Cuma ada bocoran dari Bu Ria bahwa yang menjadi Kepala Sekolah adalah Bapak Imam 
Ini semua tidak di perkirakan sebelumnya oleh semua teman-teman, termasuk aku, cuma aku berfikir kan pekerjaan Bu Yamirah di Bulak Banteng masih ada yang belum selesai yaitu mengenai Rehab gedung Kelas VI yang baru saja dimulai. Tapi apa dikata ini semua sudah terjadi dan keputusan dari Diknas Kota tak dapat diganggu gugat. Inilah yang sering aku pikirkan bahwa semua itu tiada yang abadi, silih berganti, tidak selamanya sesuatu itu ada diatas, ada waktunya untuk di bawa juga. Teman-teman mulai ada kasak-kusuk membicarakan tentang kepindahan Bu Yamirah dan Bu Sri. Aku sendiri tidak terlalu memikirkan, Cuma sebagai bahan perenungan untuk selalu bekerja dan bekerja sebaik-baiknya mendidik anak-anak, tak peduli siapapun yang menjadi Kepala Sekolahnya.
Dua pilar utama di Bulak Banteng akan pindah tugas, bagaimana kelanjutanya aku sendiri tidak tahu, trik apa yang akan dilakukan oleh teman-teman terutama orang-orang oportunis yang hanya menggunakan kesempatan untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Aku sendiri ingin menjadi orang yang merdeka yang tidak terikat dengan kepentingan-kepentingan yang semu. Disini yang perlu diperjuangankan adalah kepentingan anak-anak, jagan sampai hak-hak mereka dikebiri,di tekan dan di intimidasi. Disini aku tidak dapat mengaharapkan bantuan dari teman-teman, yang mungkin mereka sendiri tidak terlalu berfikir jauh seperti aku.
Tanggal 1 September 2009 sekolah kami mengadakan rapat, dalam rapat tersebut Bu Yamirah memberi penjelasan tentang kepindahan beliau di tempat tugas yang baru. Beliau meminta maaf kepada semua teman-teman selama beliau bekerja di SDN Bulak Banteng I ini. Beliau juga memberikan SK kepada tiga teman yang akan mendapat tugas tambahan baru yaitu Bendahara pengelolaan dana BOS di pegang Bu Enok, Bendahara Gaji yaitu Bu Ria dan PPTK di pegang oleh Bu Winartik.Dalam kesempatan itu juga Bu Sri Purwaningsih juga meminta maaf pada teman-teman bila selama ini beliau juga banyak salah pada teman-teman, karena Bu Sri Juga mendapat tugas baru menjadi Kepala Sekolah di daerah Manukan,tepatnya SDN Manukan III.