Selasa, 24 Februari 2015


Antara Dua Anak Negeri

Relung-relung hati,sumsum tulang belakangku tertusuk jarum kemunafikan
Gerak-gerik tubuh terbatasi oleh geliat penghianatan
Aroma penghancuran norma-norma tercium sampai kelpelosok negeri
Bak bau bunga bangkai yang mengundang lalat-lalat berterbangan
Dua anak kandung negeri saling menghujam belati di dada sanubari
Hilang akal
Hilang naluri
Keangkuhan Istana tak kunjung beraksi
Sabar-sabar... kata yang terucap dari sang Pemimpin
Bergejolak.....
Mengelegak.....
Ruyam durjana ditelan nafsu serakah

Burung-burung pemakan bangkai kian bersorak
kian bebas menyerang dan menerkam
Karena.......
Pedang keadilan telah berpihak
Tajamnya hanya untuk sang duafa
Dalil-dalil hukum telah dapat terpatahkan
Tak berlaku bagi yang empunya
Sabda sang Ulama kian tak diperhatikan
Bahkan dianggap gila nestapa
Pembawa lencana kian meradang dan menerjang
Mencari seribu sasaran untuk dikriminalkan
Dulu kawan sekarang lawan
Tak peduli walau sang pemimpin telah menitahkan
Hentikan.....
Hentikan.....
Semua tak punya arti
Kini keputusan telah diuji
Tinggal menunggu hari
Sampai kapan ini berati
Karna sudah tak berarti harumnya bunga melati
Salah Ucap

Bilur-bilur biru membekas dalam hati
Kata-katanya bak cemeti yang melecuti
Menhujam tajam sangat menyakiti
Menyayat pedih mengiris-iris bak belati

Huruf-demi huruf
Kata-demi kata
Kalimat-demi kalimat
Tersususun dalam sebuah paragraf
Terucap dari bibir yang pernah mengucap sahadat
Menyeruak merusak suasana yang dibangun berpondasikan basmalah
Hancur berkeping-keping tak bermakna
Iri, dengki, curiga, angkuh, sombong itulah penyebabnya
Pondasi yang dibangun kokoh, kini retak bak terkena gempa
Pilar-pilar penyangga goyah yang sebenarnya tak diinginkannya
Dinding-dinding penguat kini sudah tak nyaman
Atap-atap peneduh kini sudah berlubang
Janji prasetia kini sudah tak bermakna
Hati-hati yang menyatu kini tlah renggang berjarak
Tingkah polah kini tlah berubah
Mengelana dalam dunia fatamorgana
Mencari sensasi demi harga diri yang sebenarnya tak punya arti
Mengembara semakin tak peduli
Kalimat-kalimat hina sering terucap
Bak kapak membelah kayu jadi dua
Tak terpikir apa akibatnya
Ini semua terjadi karna salah ucap dalam berkata-kata


Surabaya, Minggu 22 Pebruari 2015
Ia Masih Belia

Di usia yang masih belia
Ia sudah mengenal arti cinta
Bak orang dewasa mengelora dalam dada
Bak burung merak yang mengibas-ngibaskan sayapnya
Mencari pesona tuk menarik pasangannya
Tuk meluapkan arti sebuah cinta
Bak pengelana yang haus mengembara
Mencari pelepas dahaga

Cinta …..bukanlah hitam putih seperti dalam bayangannya
Cinta …..bukan sekerdar tertarik pada lawan jenisnya
Cinta…...adalah sebuah irama
Melantun indah nyaman tuk didengarkan
Bak konser yang merdu membuai dalam angan-angan
Di usia yang masih belia
Ia terbakar api asmara
Bak Arjuna melepaskan anak panah cintanya
Menembus relung-relung hatinya
Merasuk dalam jiwa dan raga
Membawa imajinasi dalam dunia antah berantah
Iapun terkesima oleh untaian kata-kata
Melambung tinggi terbawa alunan biola
Bak burung punai saling kejar-mengejar
Tak peduli walau rintangan berjajar
Ini zaman teknologi
Anak belia matang belum waktunya
Terinpirasi oleh dunia maya
Oleh kata-kata atau gambar yang memikat hati
Semakin dilarang iapun semakin melawan
Bak perang baratha yudha antara ia dan orang tua
Tak sadar apa akibatnya
Iapun lupa tugas dan kewajibanya
Di usia yang masih belia
Ia terjerat oleh fatamorgana
Bersolek di depan kaca bak peragawati tampil dipentas seni
Berlanggak-lenggok bak burung merpati
Ia masih belia
Yang mestinya belajar mengejar impian
Meraih prestasi
Tuk mengharumkan ibu pertiwi


Surabaya, Selasa 24 Pebruari 2015