Jumat, 24 April 2009

Berita Duka

Pada pukul 05.00 wib telp di rumahku berdering,kuangkat gagang telpon ternyata suara seorang perempuan yang sudah berumur,beliau menanyakan :"Apa iki Yani Yo ?".Aku Jawab "Iya,wontwn nopo ?" balik ku bertanya."Kandanono ibumu ya...... Budhe Santun wis tilas ndoyo" kata orang yang menelponku.Aku Sempat tanya lagi :"Kapan ?"."Mau jam telu isuk!" jawabnya."Inalillahi wa ina ilaihi rojiun" jawabku."Wis Yo bulek Tina hubungono!"."Inggih",jawabku balik.

Buhde Santu ini adalah istri dari Padhe Sukeri,Beliau masih satu garis dengan buyutku yang berasal dari Tulung Agung.Orangnya sangat baik sekali,aku ingat ketika aku sakit dimasa kecil,Pak Dhe Sukeri inilah yang memperhatikan lebih dahuli dari kerabat kami.Ketika beliau tinggal di Surabaya,aku masing ingat sekali masa kecilku yaitu dengan Mas Sugeng bermain di rumah Pak Dhe Sukeri minta Tebu yang ada di rumah beliau di Wonosari.Karena sudah pensiun sekarang beliau tinggal di Tulung Agung.

Budhe Santun ini memang sudah lama terserang sakit tumor atau kangker rahim,beliau sudah berusaha baik secara medis maupun non medis,tapi seiring perjalanan waktu ajal juga yang menjemput,Ya Allah ampunilah beliau,tempatkanlah beliau disisimu dengan layak sesuai dengan amal-amal beliau.Kuatkanlah keluarga yang ditinggalkanya.Amin.

Surabaya,25 April 2009,Sabtu Pon/Robiul Akhir 1430.

Minggu, 19 April 2009

EMOSI JIWA 1

EMOSI JIWA
Mengapa emosi jiwaku meledak-ledak tat kala aku mengalami sesuatu hal yang kurang menyenangkan?,mengapa aku kurang kontrol terhadap sikapku tersebut ?.Apakah ini bukan suatu kecerobohan?.Aku jadi berfikir ternyata memimpin orang lain dalam suasana yang demokratis membutuhkan hati yang lapang,kadang ego kita jadi hilang karena suara kita tak bermakna ketika suara banyak menghendaki lain dari pendapat kita.Memang kita butuh kesepakatan-kesepakatan yang tertulis dengan jelas tentang hal-hal yang boleh kita lakukan dan apa yang tidak boleh kita lakukan.Kadang ada manusia yang bersikap oportunis,yaitu yang mau enaknya sendiri tanpa mau bersusah payah.Saya sudah berusaha menjadi pelayan yang baik bagi teman-teman yang saya pimpin,sampai-sampai ketika dosen masuk ke ruang kelas aku harus memanggil mereka untuk masuk kelas,belum lagi kalau ada tugas dari dosen aku harus menjelaskan sedetail-detailnya meskipun tugas tersebut sudah di tulis di papan tulis.Belum lagi kalau ada ulangan,kadang ada teman yang meminta jawabanya,ini yang kadang mengganggu konsentrasi belajarku.Ada juga yang secara berkelompok mereka bekerja sama untuk saling tukar jawaban,ini yang membikin suasana kelas menjadi kacau balau dan gaduh.Dalam posisi seperti ini aku tak dapat berbuat banyak untuk menentramkan mereka.
Kita sudah sepakat mengadakan iuran perbulan Rp 10.000,00 untuk menyediakan komsumsi bagi para dosen,untuk foto copy yang jumlahnya sedikit,untuk sosial teman yang sakit,untuk hal hal lain yang tak terduga.Tapi kenyataannya ada juga yang tidak membayar.Lalu apakah aku harus menegur mereka,kita ini sudah sama-sama dewasa,umur sudah kepala 4 apakah kita tidak malu dengan diri kita sendiri.Coba kalau kita bertindak pada murid kita masing-masing,apa yang kita lakukan ?.Seakan-akan kita menasehati supaya mereka rajin belajar,berbuat baik pada sesama teman,dan bla......bla.......bla.......
Ironis memang kita ini sebagai guru,keilmuan kita ditingkatkan dengan belajar ke S1-PGSD ,UNESA lagi,tapi semangat belajar kita ogah-ogahan,ada kesulitan sedikit kita tidak masuk,dan minta diabsen masuk.Kalau ada tugas kita minta dikerjakan teman,tapi kalau ada teman yang kesusahan kita tidak peduli,pulang ingin cepat,dan lain sebagainya.Lalu apa yang dapat saya perbuat dengan ini semua ?.Mereka kalau ada apa-apa dengan dosen suruh menghadap sendiri tidak berani,minta diantar.Belum lagi kalau ada dosen yang tidak hadir senangnya bukan main.Lalu apa yang harus saya perjuangkan dengan ini semua ?
Aku sebagai Pimpinan kelas sebenarnya sebagai jembatan antara mahasiswa dengan dosen,kalau ada masalah yang berkaitan dengan perkuliahan kita bisa sharing,untuk memecahkan bersama-sama.Ini belum apa-apa sudah mengatakan jam kosong,padahal ada tugas dari dosen yang tidak masuk pada hari itu dan tugasnya harus dikumpulkan pada hari itu juga.
Aku pernah diingatkan oleh Bapak Sirajudin,dosen yang kurang disenangi oleh beberapa mahasiswa.Beliau berkata : “Yan kamu harus hati-hati dan punya bukti otentik berkaitan dengan tugas yang di berikan oleh dosen kepada kamu,kadang ada teman yang mengadu kamu dengan dosen tersebut,katanya sudah mengumpulkan tugas tapi nyatanya belum.”
Memang di kelas A ini aku mendapat kesan yang yang kurang mengenakkan yaitu dengan peristiwa hilangnya 2 HP milik Bu Dwi Asmara,bayangkan kuliah belum dapat 2 bulan sudah ada yang kehilangan HP.Aku berfikir ini guru atau orang yang bukan guru ?.
Belum lagi ketika ada teman yang mempunyai masalah dengan suami mereka,kadang aku diajak berbicara masalah keluarganya,aku sendiri sebenarnya risih,aku merasa kurang pantas kalau diajak bicara,karena aku sendiri banyak sekali menghadapi problem dalam kehidupan ini.Memang ada beberapa teman yang mempunyai masalah dengan keluarganya masing-masing,bahkan sampai ada yang ketingkat perceraian.Aku sendiri sebenarnya tidak mempunyai solusi terhadap permasalahan mereka,karena semua keputusan tergantung dari hati nurani mereka masing-masing.Aku hanya menyarankan mereka untuk banyak berdoa dan berdoa,karena hanya itulah senjata kita satu-satunya yang kita miliki sebagai orang yang beriman dan yang merasa mempunyai Allah SWT.
Oh ........ dunia ini memang aneh,kadang kita dipandang sebelah mata oleh orang lain,tapi kadang kita dipandang berlebihan oleh orang lain.
Aku sendiri kadang berlebihan terutama terhadap salah satu teman sekelasku yang juga tetangga satu RW,mengapa aku selalu memikirkannya padahal ia bukan siapa-siapa bahkan dia sendiri dengan aku biasa-biasa saja.Tapi mengapa justru jalan kehidupan yang ia alami menjadi suatu ispirasi bagi diriku untuk menulis sebuah puisi,padahal kalau ketemu di kelas kami biasa-biasa saja seakan kami juga tak saling kenal,jarang sekali aku ngobrol dengan dia membicarakan tentang sesuatu.Karena hal tersebut justru membuat rasa cemburu pada istriku karena aku terlalu berlebihan memperhatikannya.Kalau ada tugas apapun ia minta tolong dengan ringan tanganpun aku datang kerumahnya,kadang dengan anakku dan akhir-akhir ini aku mengajak istriku.Aku sendiri menghindari fitna yang timbul.
Aku menyadari banyak hal yang harus aku kerjakan aku tak boleh terlena dengan khayalan-khayalan yang dapat menghancurkan diriku.Aku sudah mempunyai belahan jiwa,aku sudah mempunyai 3 mutiara,bahkan kami sudah mengarungi bahtera rumah tangga hampir 16 tahun dan dasar perkawinan kami bukan materi,pangkat,derajat atau yang bersifat duniawi.Perkawinan kami adalah sebuah perkawinan yang diawali oleh saling percaya tanpa kenal lebih dahulu.Hal itu dilandasi oleh rasa iman kehadirat Allah SWT.Aku seharusnya bersyukur kehadirat Allah SWT yang telah memberi karunia pada diriku dengan kehadiran belahan jiwaku dan aku mempunyai mertua yang agamais yang senantiasa memberikan nasehat-nasehat pada diriku kalau aku meghadapi suatu masalah,belum lagi aku mempunyai teman-teman yang seakidah yang selalu memberi masukan pada diriku apabila aku menghadapi masalah.
Aku sekarang baru menyadari arti dari sebuah cinta dalam bahtera rumah tangga,betapa marahnya belahan jiwaku kalau aku lebih memperhatikan perempuan lain dari pada dirinya.Hal itupun pernah aku tanyakan pada perempuan temanku,iapun akan marah kalau suaminya bersikap seperti itu.Sungguh betapa cintanya belahan jiwaku padaku,ia tak mau berbagi kasih dengan wanita lain,aku baru tahu bagaimana kalau ia sedang marah tentang hal itu,ia membicarakan hal itu dengan kedua orang tuanya dan keluarganya,termasuk dengan kakak perempuannya,sampai-sampai kakaknyapun ikut sakit hati dengan aku,padahal beliau belum mengetahui duduk permasalahannya.Tetapi mertuaku justru menasehati aku supaya banyak berdoa.
Memang secara kodrati masak ada wanita yang mau untuk berbagi kasih dengan wanita lain.Aku sendiri pernah dinasehati oleh temanku yang lebih tua dari aku yaitu Ibu Patumi,beliau mengatakan bahwa aku harus hati-hati dalam bergaul dengan teman-temanku,tidak semua kejadian di kelas harus aku ceritakan pada belahan jiwaku,karena hal itu mungkin akan menyakiti hatinya.Sebenarnya sih aku mau bersikap terbuka pada belahan jiwaku,termasuk ketika aku diajak makan-makan dengan teman-teman sekelas di rumah makan,eh belahan jiwaku jadi marah-marah.Nah ini akibatnya kalau mengatakan apa adanya pada sang istri.Tapi aku sendiri tak bisa menyembunyikan sesuatu pada sang istriku terutama tentang kejadian aku dengan teman-temanku.
Di kelas A ini aku mempunyai beberapa teman yang selalu mengingatkanku kalau aku melakukan kesalahan,beliau adalah Ibu Patumi,Ibu Sri Mulyati,Mami,Emak dan ada temanku yang berani menegur aku kalau aku ini jangan suka marah-marah,atau bahasa Jawanya “Ngamu’an”,memang sih kadang-kadang emosiku ini suka meledak-ledak,aku ingin kelas ini menjadi kelas yang kompak,semua teman sepakat,semua mengiyakan,tapi kenyataannya dalam hal keuangan yang berkaitan dengan sosial tidak semua teman melakukan apa yang pernah di ucapkan.Contoh yang nyata adalah setelah aku cek daftar iuran wajib ternyata ada beberapa teman yang menunggak sampai 3 bulan.
Dengan Kejadian diatas aku jadi berfikir,bagaimana sebaiknya aku bersikap,apakah aku harus diam dengan hal tersebut,apakah aku harus memikirkan teman-teman yang pro aktif saja,atau aku bersikap cuek saja,banyak juga sih teman yang baik,seperti bu Sri winartik,bu Sunarsih,bu Ellys,bu Rita Lusiana,pak Heri,pak Mahfud,bu Nanik,bu Rochmulyati dan masih banyak lainnya.Mereka selalu mendukung hal-hal yang positif yang berkaitan dengan kelas A
Ada kejadian baru-baru ini yang berkaitan dengan kaos olah raga,banyak teman yang kurang puas dengan warnanya,bahannya,ukurannya.Mereka mengadu padaku,aku katakan bahwa kesalahan ini tidak semata-mata kesalahan dari Pak Untung yang aku serahi untuk memesan kaos tersebut,ini adalah kesalan kita semua,mengapa ketika semester satu untuk segera mengumpulkan uang untuk pembelian kaos banyak yang tidak menbayar,ini akibatnya kita tidak dapat memberi uang muka yang cukup untuk Dpnya.Akibatnya ya ini yang kita peroleh,disamping itu kaos sudah terlanjur sudah kita pesan,masak kita kembalikan.Aku akhirnya mengatakan hal ini pada Pak Untung untuk bersabar terhadap ocehan teman-teman yang kurang puas.Ini adalah benih-benih ketidak puasan teman-teman terhadap pengurus kelas.Bahkan setelah aku cek pembayaranya ada juga yang kurang,bahkan ada yang belum membayar sama sekali.
Ini masih kelompok masyarakat kecil yang terdiri dari 56 jiwa yang sudah berumur dan dewasa,tapi dalam bersikap dan bertidak kadang diluar logika dunia akademisi,ada yang pesolek,ada yang pendiam,ada yang biasa biasa saja,ada yang oportunis,ada yang sekedar datang,ada yang serius,ada yang low profil,dan setiap jiwa mempunyai karakter yang berbeda. Ini adalah keunikan dari manusia,bahkan menurut teori pysikologi bahwa tidak ada manusia yang identik dalam kepribadiannya,meskipun ia manusia kembar.Disinilah aku mulai berfikir tentang seni memimpin orang-orang dewasa semacam itu yang hidup dalam dunia akademisi yang semestinya mengedepankan logika daripada emosi,mengedepankan rasionalitas daripada perasaan.Memang dalam belajar kita harus mengikutsertakan perasaan kita agar kita dapat menjiwai proses pembelajaran yang sedang berjalan,tetapi kaidah logika tetap berjalan.
Hari Selasa,14 Apr. 09 pukul 08.15 malam telepon rumahku berdering tiga kali,baru setelah itu aku angkat,aku kira Ibu Ika si Bendahara kelas A,tapi ternyata suara temanku sewaktu SD yang sekarang satu kelas denganku lagi di UNESA.Gagang telepon aku angkat dan aku katakan : “Halo dengan siapa ini “.Telepon tersebut tidak dijawab malah terdengar suara tawa seringai kecil.
“He aku iki “ Ia menggunakan bahasa jawa yang merupakan bahasa ibu bagi kami.
”Oh kamu,ada apa ?”,tanyaku.”He apa PRnya sudah kamu garap ?”. tanyanya.
”Belum,memangnya ada apa ?”. tanyaku lagi.
“Ya kalau sudah aku pinjam “ jawabnya.
“PR yang mana,Fisika atau komputer ?” tanyaku lagi.
Dia menjawab :”Ya kalau bisa ya semuanya,Eh aku buat nilai apa tidak ,untuk komputer?”
Aku menjawab : “Ya alangkah lebih baik apabila ada data yang ada sehingga aku tinggal memasukan dan mengetik,jadilah sudah sehingga aku tidak mengarang nama murid dan nilai “
Dari gagang telepon terdengar tawa seringai : “Oh wong iki !”
Setelah itu aku mendengarkan obrolannya tentang macam-macam termasuk ia menasehati aku untuk sabar menghadapi teman-teman,memang orang banyak,ya bagaimana lagi.
Beberapa hari kemudian aku mendengar telepon derdering lagi,aku angkat dan ternyata temanku lagi.”Halo,Pak Yani ,Bu Mia pinjam PR Fisika.”
“Lo ...memang punyamu apa belum selesai ?,katannya kamu minta bantuan sama temanmu?”jawabku lewat telepon itu.
“Iya sih aku sudah serahkan pada temanku tapi belum selesai,gini aja pakoke Bu Mia besok pinjam punya sampean”.kata temanku tersebut dalam telepon seakan memberi penekanan.
“Ya...ya.... aku pinjami,tapi siapa yang mengambil bukunya ?” tanyaku dalam telepon.
Ia menjawab : “Ya anakku Yanti yang ambil “.
Aku menjawab : “Wah...kalau anaknya yang mengambil aku tak mau,harus ibunya yang mengambil “. Dalam hatiku mengoda temanku tersebut.
“Adu Pak Yani aku ndak bisa,aku nunggui anakku yang kecil si Vivi yang lagi tidur,dan nanti Yanti sambil ngantarkan buku sampean yang ketinggalan “.jawabnya seakan memelas.
“Oh... ya...ya... kalau gitu boleh sambil barter,kalau gitu aku tunggu “.balasaku lewat telepon.
“Ya kalau gitu terima kasih,ya....” ia membalas ucapanku.
“Ya sama-sama...” setelah itu telepon aku tutup.
Tak lama kemudian putri dari temanku tersebut yang bernama Yanti datang kerumah mengendarai sepeda motor.Ia matikan sepeda motornya ,turun dan mengetuk pintu rumahku.saat itu aku masih memberi bimbingan belajar anak kelas VI .
“Oh Yanti.. Silahkan masuk Yan.” Sambil membuka pintu.
Yanti pun masuk dan aku ambilakan buku PR Fisika dan sedikit aku terangkan halaman dan nomor soal yang aku tulis,Yanti hanya mengangguk dan mengatakan ya...ya....setelah itu ia pulang.
Aku sendiri heran dengan teman-temanku,betapa tidak, aku sendiri sebenarnya kurang begitu paham terhadap apa yang diterangkan oleh Pak Gino sebagai Dosenku.Kebetulan juga Pak Gino adalah guruku ketika kami di SPGN 1 Surabaya,Jl.Teratai no.1.Sebenarnya sih enak juga apa yang diterangkan oleh beliau,tapi rumusnya ini yang agak susah aku pahami.Aku sendiri kurang yakin dengan jawabanku apakah benar apa tidak,tapi teman-teman perempuan banyak yang pinjam.Bahkan bukuku di oper dari satu teman keteman yang lainya.
Pada 18 April 2009,untuk pertama kali aku mendapat tugas menyusun soal ujian akhir kelas enam,yaitu untuk soal Bahasa Jawa ,berpasangan dengan Bu Sumini guru kelas VI SDN Bulak Banteng II.Penyusunan itu diadakan di SDN SIWED IV,JL.Randu 100 .Aku disitu bertemu dengan beberapa guru kelas VI dari berbagai SD dan beberapa Kepala Sekolah.Aku adalah satu-satunya guru kelas V.Karena Bu Sumini sudah berpengalaman dalam menyusun soal tersebut,jadinya kami sudah mulai mengetik soal sesuai dengan kisi-kisi yang tersedia.Oh ya.... di tempat itu aku bertemu dengan Sunarto temanku waktu di SPG dan Bu Tarwiyah ,teman waktu ia mengajar di SDN Bulak Banteng I.
Waktu berjalan terus,tiada yang dapat menghentikan,karena sang waktu selalu menepati janjinya tuk berjalan terus tiada henti.Hari itu bertepatan dengan hari Sabtu,dimana pukul 13.00 WIB aku harus sekolah di Moestopo.Jam sudah menunjukan pukul 12.00.pekerjaan kurang beberapa soal lagi.Hampir pukul 13.00 pekerjaan baru selesai,dan aku print dengan dibantu oleh pak Saproni.Setelah selesai pekerjaan itu aku serahkan pada Pak Heri Purwanto selaku K3S.Kec.Kenjeran,dan aku menerima honor pembuatan soal sebesar Rp 50.000,00.Akupun mengucapkan terima kasih.
Selesai menyusun soal aku terus ke Jl.Moestopo untuk sekolah,betul juga perkiraanku bahwa aku terlambat.Untungya dosennya cukup baik mau menerimaku masuk meskipun aku terlambat.Dosen tersebut adalah Bu Retno,beliau pengampu mata kuliah Aplikasi Komputer.Kegiatan hari itu menyusun tabel belanja barang pada program exel.Akupun memilih salah satu komputer aku nyalakan dengan dibantu oleh mas Prapto.Kemudian aku buka program exel dan aku masukan data yang ada dipapan tulis maka jadilah apa yang telah diajarkan oleh Bu Retno.Saat pengerjaan data ter sebut aku berdampingan Bu Murni,ia ini kadang sangat lucu kadang aku sendiri agak takut dengannya karena kalau bergurau agak keterlauan,disamping itu teman-teman yang lain sering mengoda dengan kata-kata :”Susu murni-susu murni” maka teman yang lainya jadi tertawa terbahak-bahak.Memang sih Bu Murni ini agak gemuk ukuran tubuhnya,jadinya kelihatan tambun.
Selesai pelajaran aku menyerahkan tugas komputer pada Bu Retno untuk di copy pada lap top beliau,dan selesai itu aku cek tugas teman-teman ternyata ada yang yang tertinggal yaitu 2 orang.
Jam II mata kuliah dilanjutkan dengan pelajaran Pendidikan Pancasila yang diampu oleh Bapak Waspodo,beliau gaya mengajarnya sukup demokratis dan fun sehingga kami jadi enjoe aja......... bahkan diantara kami terjadi dialog dan tanya jawab,sehingga perkuliahan menjadi hidup.Lebih-lebih kalau yang bertanya adalah Pak Untung Saung,suasana jadi ger...... karena Pak Untung menanyakan peristiwa aktual meskipun kadang agak melenceng dari topik yang sedang dibicarakan.Nah kalau aku bisa bertanya untuk menghidupkan suasana perkuliahan dan aku sendiri supaya tidak mengantuk.Setelah mata kuliah berakhir dilanjukan mata kuliah Konsep Dasar IPA I yang diampu oleh Bapak Gino yang merupakan Dosen Fisika.Nah ini ada sedikit masalah yaitu ternyata PR yang aku kerjakan dikumpulkan jadinya aku tertinggal karena belum ku salin di kertas tugas sebagaimana mestinya.Pada hari itu Pak Gino menjelaskan tentang gerak vertikal,beliau menerangkan rumus-rumus tentang gerak gravitasi,waktu,dan berkaitan dengan hal tersebut.Nah pada sesi ini banyak teman yang puyeng memikirkan rumus-rumus yang njelimet.Setelah Pelajaran mata kuliah Fisika selesai dilanjukan dengan Stategi Pembelajaran yang diampu oleh Bapak Subagio.Beliau ini orangnya sangat fun dan enjau,beliau sangat menghormati para mahasiswa yang sudah berumur ini.Meskipun pada saat itu ada temanku yang anaknya ikut masuk di tempat perkuliahan beliau tidak marah atau mnegur pada temanku tersebut,bahkan beliau sangat memakluminya.Perkuliahan hari itu diakhiri pukul 20.00 WIB dan kamipun pulang kerumah masing-masing.

Jumat, 10 April 2009

Puisi Hati

Jantung dertetak kencang
Tatapan mata-mata jalang duniawi kian meradang
Tiap langkah dihitung dengan uang
Kerja bukan lagi ibadah

Sesama kawan saling memakan
Sesama teman saling menghadang
Sesama kawan saling mencerca
sesama teman saling menerkam

Tapi ini adalah habitatku
Tapi ini adalah komunitasku
Tapi ini adalah ekosistimku
tapi ini adalah tempat dimana aku tinggal

Aku tak bisa lari dari kenyataan
Aku tak bisa lari dari kehidupan
Aku tak bisa lari dari tantangan

Kini aku jadi terbuka
Kini aku jadi melihat
Kini aku jadi menyaksikan

Inilah hidup
Inilah kenyataan
Inilah apa yang ada di depan mata

Aku tak bisa lari dari kehidupan
Aku hanya bisa berkata dan berdoa

Tuhan,jauhkan aku dari malapetaka
Tuhan,jauhkan aku dari musibah
Tuhan,jauhkan aku dari bencana
Tuhan,jauhkan aku dari orang-orang yang sakit iri dan dengki

Tuhan...... hanya Engkau sandaran jiwaku
Tuhan...... hanya Engkau tempatku berkeluh kesah
Tuhan...... hanya Engkau tempatku berkata-kata
Tuhan...... hanya Engkau penerima getaran hatiku

Puisi Tuhan........

Tuhan,dalam sendiri ku sebut Namamu
Tuhan,dalam sendiri kucari diriku
Tuhan,dalam sendiri ku renungkan hidupku
Tuhan,dalam sendiri ku baca pikiranku
Tuhan,dalam sendiri ku telaah jalan hidupku
Tuhan,dalam sendiri kucari makna hidupku

Tuhan,aku tersandung batu kehidupan
Tuhan,aku tersejerat jaring kehidupan
Tuhan,aku terjatuh dan terbelenggu problematika kehidupan

Tuhan,aku ingin kembali Pada-Mu
Walau keluh lidah ini menyebut nama-MU
Walau tersengal-sengal nafas ini
walau gemetar hati ini
Tuhan,aku tak bisa lepas dari dekapan-Mu
Tuhan,aku remuk redam dalam Nama-Mu

Tuhan,dalam sendiri ku bersimpuh di hadapan-Mu
Tuhan,kini aku mengadu pada-Mu
Tuhan,kini aku utarakan apa mauku
Tuhan,kini aku senadungkan getaran jiwaku
Tuhan,kini aku lantunkan bait-bait nafasku
Tuhan,kini aku dendangkan lagu cintaku
Tuhan,aku tak bisa berucap lagi

Tuhan,............ dalam rindu kusebut nama-MU

Puisi Sang Rembulan

Sang Rembulan

Malam bergelajut bintang
Wajah bulan bersinar terang bersanding menemani
Awan putih berarak-arakan berlahan
Angin berhembus menerpa santai seakan berbicara tentang kehidupan
Wajah raja malam merona terang seiring waktu
Purnama kini menjelang
Tiada awan hitam yang menghadang
Di tepian pantai wajah sang renbulan tampak mempesona
Beburan ombak saling bersahutan
Menyambut purnama yang tiba
Biduk Nelayanpun disandarkan di tepian pantai
Melautpun ditinggalkan sejenak
Rona malam menampakkan keperkasaanya
Dedaunan lembut bergoyang di terpa angin malam
Senandung syair merdu terdengar dari kejauhan
Suara melantun dari surau terdengar
Melantunkan ayat-ayat peringatan
Gema wahyu ilahi menusuk hati
Memberi bekal di kehidupan nanti
Ini sebuah pertanda bagi yang berfikir
Ini membawa makna bagi yang berakal
Getaran senandung ayat suci menggetarkan jiwa bagi yang terbuka
Terbuka jiwa dan raga,bak purnama yang kemilau sinarnya
Kikisan Ombak dipantai dengan pasti menerjang
Tiada henti sepanjang kehidupan.

Kamis, 02 April 2009

Senandung Hujan

Tanggal 2 April 2009 pukul 13.03 hujan merata membasahi pelataran sekolah tempat aku mengajar,tampak mendung berwarna abu-abu rata menutup wajah langit,suara Guntur saling bersahutan saling bergantian.Siang itu suasana tampak sepi karena hujan turun tiada henti.Persis di depan pintu aku memandang jauh kedepan yang tampah air hujan merata,para pedagang kaki lima yang ada di dekat sekolah membawa payung kian kemari.suasana memang tampak sepi siang itu,hanya sesekali kelihatan anak-anak yang berlarian main hujan,atau pengguna jalan yang memakai jas hujan.
Hari itu hari Kamis,hari dimana aku biasa berpuasa untuk melaksanakan niatku,tetapi hari itu aku tidak berpusa karena sesuatu hal yang menyebabkan aku lupa untuk sahur.Hari itu aku tetap berusaha tidak makan sampai pukul 13.00,badan terasa lemas dan ada sedikit persoalan dalam hati yang menggajal berkaitan dengan teman sekerja.Hujan disiang itu seakan mengiyakan kegundahanku.Aku yang dulu menolong teman sekerja supaya dapat kembali bekerja di tempat aku mengajar,padahal ia sudah mengundurkan diri untuk tidak mengajar,selang beberapa bulan kemudian temanku tersebut datang kerumah diantar suaminya meminta tolong bagaimana supaya ia dapat mengajar lagi seperti dulu,akupun dengan sukarela mengantar ia menghadap ibu kepala sekolah yang waktu itu di jabat oleh Ibu Jatinem,ibu Kepala sekolahpun mengijinkan temanku tersebut untuk mengajar kembali seperti sediakala.
Seiring perjalanan waktu temanku tersebut mendapat kesempatan untuk sekolah D2 di UT bersama temanku yang lainnya,aku tidak mendaftar karena keadaan ekonomi yang tidak memungkinkan untuk itu.Temanku tersebut akhirnya dapat menyelesaikan pendidikannya dengan baik,tak lama kemudian ada pendaftaran CPNS oleh Pemkot Surabaya,kami semua dari SDN Bulak Banteng ikut mendaftar sesuai dengan ijazah terakhir yang dimiliki.Singkat kata temanku tadi diterima menjadi CPNS sedangkan aku tidak,aku tetap menjadi guru sukwan di SD tempat kami mengajar.Teman-temanku yang di terima tersebut bersuka cita kerena apa yang dicita-citakan tercapai yaitu menjadi gutu yang diakui oleh negara,bahkan ia melanjutkan studi ke jenjang S 1 UT.
Pemerintah pada periode ini benar-benar memperhatikan keadaan guru sehingga keluarlah kebijakan tentang setifikasi guru,teman-temanku yang sudah mengantongi ijazah S1 pun mendapat kesempatan mengikuti program tersebut dan akhirnya lolos meskipun lewat program Diklat selama 10 hari.Dengan kondisi seperti itu keadaan berbalik arah 180 derajat dengan ketika kami sama-sama menjadi guru sukwan,sekarang seperti terjadi klik,atau kelompok-kelompok yang membedakan kami,kami seakan sudah lupa terhadap asal-usul kami yang dulu semasa sama-sama dalam meniti karir menjadi guru,kami sekarang seakan tak saling kenal,ketemu dijalan kami tak lagi saling menyapa,bahkan ada tugas yang berkaitan dengan menjaga try outpun aku tak tahu jadwalnya.
Kemarin ada sedikit masalah dengan anak-anak kelas VI yang belajar di tempatku,mereka mengadu kalau minggu depan mungkin mereka tak dapat belajar lagi di tempatku karena guru kelas VI mereka mengadakan les tambahan belajar di sekolah yang waktunya bersamaan dengan jadwalku,dengan biaya Rp 100.000,00 selama 1 ½ bulan mulai bulan April sampai menjelang UASBN,anak-anak sendiri merasa keberatan setelah memberi tahu kedua orang tua mereka.Aku mengatakan hal itu bagus ada les di sekolah,aku tak bisa berbuat banyak kalau kegiatan itu di adakan oleh guru kelasnya.semua aku kembalikan ke anak-anak sendiri dan kedua orang tua mereka.Akupun akhirnya menghubungi Ibu Yamirah selaku Kepala sekolah apakah beliau mengetahui kalau guru kelas VI mempunyai program semacam itu,atau Guru kelas VI apakah sudah berkonsultasi dengan Ibu kepala sekolah,ternyata Ibu Yamirah pun belum tahu akan kegiatan tersebut.
Tak disangka ada salah satu orang tua murid kelas VI yang menelpon langsung ke Bu Yamirah menanyakan tentang kegiatan les yang akan diadakan oleh guru kelas VI dan orang tua tersebut merasa keberatan tentang kegiatan tersebut,karena kegiatan tersebut tanpa kordinasi dengan orang tua murid kelas VI.
Esok paginya entah bagaimana kejadiannya aku sendiri kurang tahu,apakah guru kelas VI tersebut dipanggil oleh Ibu Yamirah apa tidak,dengan pasti aku tidak tahu.Ketika aku masuk ruang perpus aku mendengar sendiri teman perempuan guru kelas VI membicarakan tentang kegiatan les yang dilaporkan oleh salah satu orang tua murid ke kepala sekolah,akupun jadi kurang enak sendiri dan merasa pembicaraan tersebut menyindir aku karena gelagat dari kedua temanku guru kelas VI kurang bersahabat.
Besoknya aku tanya anak-anak apa yang terjadi di kelas mereka ?.Mereka menjawab bahwa mereka disuruh maju satu persatu dan ditanya siapa yang les di luar,dan les dimana ?,secara otomatis anak-anak yang belajar di tempatkupun menjawab apa adanya,kata mereka.
Aku ingat sekali hasil rapat di Sidotopo Wetan IV bahwa guru tidak boleh mengadakan les di sekolah,itu kata Ibu Endang selaku UPTD-BPS Kecamatan Kenjeran.Ditambah lagi ketika rapat dinas guru-guru yang dipimpin oleh Ibu Yamirah,bahwa guru tidak boleh mengadakan les di sekolah yang memungut biaya langsung kepada wali murid.Hal itu sudah peraturan dari dinas Kota katanya.Tetapi hari ini masih ada yang ingin memancing di air yang keruh,sudah tahu perbuatanya tidak prosedural masih mengkambing hitamkan orang lain dan melakukan penekanan kepada anak didiknya.Bahkan ada salah satu anak kelas VI yang menanyakan bagaimana kalau tidak ikut les ? ,anak itupun mendapat marah dari gurunya.
1 April 2009 setelah aku mengantarkan anakku sekolah aku sempatkan mampir kesalah satu wali murid kelas VI yang dekat dengan sekolah,tujuanku adalah menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada anak-anak yang belajar di tempatku,apa yang mereka alami ketika di kelas mereka masing-masing ?.Orang tua muridpun bercerita kalau ada les yang diadakan oleh gurunya dengan biaya Rp 100.000,00 selama 1 ½ bulan ini,iapun merasa keberatan.Memang guru kelas VI ini kurang komunikasi dengan Ibu-Ibu wali murid dan kurang transparan dalam menggunakan uang paguyupan karena setelah ada kegiatan out bound tidak ada laporan sama sekali dan pengurus paguyupan ada yang tidak di ajak kegiatan tersebut.Itu kata salah satu pengurus paguyupan kelas VI,sehingga kata mereka hubungan wali murid dengan wali kelas VI kurang harmonis.
Sungguh ironis permasalahan yang aku hadapi ini,kita yang bergerak di bidang pendidikan,justru melakukan hal-hal yang menimbulkan masalah bagi anak-anak didik kita sendiri,seakan kita tidak rela kalau anak kita belajar pada orang lain,padahal mereka punya hak untuk mengakses semua sumber belajar pada siapapun asalkan ia mau.Ada semacam kebencian pribadi yang terbawa pada urusan pendidikan,kita tidak bisa memilah-milah mana urusan pribadi,mana yang urusan pendidikan.Kalau aku dikatakan sebagai biang kerok permasalahan ini,maka kita perlu diskusi terbuka apa yang menjadi persolannya.Kita sebagai pelaku akademisi perlu mengembangkan wacana dialogis antar teman dan melakukan sharing.Mana yang baik kita ambil,dan mana yang tidak baik kita buang jauh-jauh.Katanya kita sarjana S1 tapi mengapa prilaku kita seperti anak SD ,apa yang selama ini kita kaji di kampus tempat kita belajar,apa yang selama ini kta dapatkan dari pelatihan-pelatihan ?,bahkan apa yang selama ini kita peroleh dari sertifikasi melalui diklat ?
Aku merasa genderang kebencian telah didendangkan,aku sendiri tak tau penyebanya,pernahsih temanku mengatakan bahwa aku ini kurang bisa menghargai teman yang lain,tidak memanusiakan manusia,kalau ini pernyataan mereka,bagaimana dengan tingkah laku mereka yang suka membicarakan orang lain dibelakang ?.Apa manfaatnya mereka melakukan gosip ria ? Mengapa tidak kita kembangkan budaya dialogis ? mengapa kita terlalu kaku dengan pendapat kita yang belum tentu kebenaranya ?.Ini pertanyaan yang menyelimuti benakku selaku teman dan guru SD.Aku menjadi bertanya-tanya dalam hatiku apakah aku dapat bekerja dengan baik dalam suasana seperti ini.Memang tidak semua teman seperti itu,masih banyak teman yang baik dan pengertian dan mau memberikan masukan atau nasehat lewat dialog dari hati kehati di waktu senggang.
Tak terasa waktu menujukkan pukul 14.51,anak sekolah masih waktunya istirahat aku masih menulis apa yang menjadi gejolak dalam hatiku.Anak-anak ada yang berlarian dalam kelas,ada yang di luar kelas bahkan ada yang cerewet bertengkar dengan temannya.Tak lama kemudian bel sekolah berbunyi anak-anak pada masuk kelas masing-masing.Akupun mulai mengajar anak-anak.Jam terakhir pada hari itu adalah mata pelajaran SBK,anak-anak minta menggambar.Permintaannyapun aku iyakan. Mereka mulai asyik membuka buku gambarnya masing-masing,tapi ada juga yang tidak membawa,mereka betanya : “Pak bagaimana dengan anak yang tidak membawa buku gambar ?” Aku jawab,”Kalau punya uang boleh membeli buku gambar di toko sebelah “.Merekapun ada yang keluar untuk membeli buku gambar dan memulai pekerjaanya masing-masing.
Kebetulan pada hari ini Kamis,2 April 2009 teman guru kelas Vb titip murid padaku karena ia ada keperluan dengan warganya ada pengajian,sehingga pada pukul 14.00 tadi ia undur diri dan menitipkan muridnya padaku,akupun jadi merangkap dua kelas,yaitu Va dan Vb.Dasar anak-anak kalau ditinggal gurunya ya tidak ada kegiatan yang lain kecuali ramai,meskipun sudah dikasih tugas oleh gurunya masing-masing.
Hari menjelang sore,anak kelas VI sudah ada yang kelihatan datang untuk mengikuti tambanhan pelajaran yang diadakan oleh guru kelas VI,ada yang mengendarai sepeda motor,ada yang bersepeda dan ada yang berjalan kaki.Memang anak sekarang jauh berbeda dengan anak dizamanku dalam segi penampilan.