Kamis, 20 Agustus 2009

CERMIN PENDIDIKAN

Ketika pendidikan hanya menjadi sebuah komoditi

tak ada bedanya ia dengan barang kebutuhan sehari-hari
orang selalu mencari, dan bahkan rela membayar dengan harga tinggi
karena sang penjual pun tak pernah mau rugi

Ketika pendidikan tak lebih dari sebuah komoditi
ia akan menyerupai sebuah proses produksi
"bawakan kami bahan bakunya, maka akan kami jadikan ia produk yang dicari-cari"
begitu mungkin pikiran mereka,
para guru yang tak lagi mendidik dengan hati nurani

Karena pendidikan sudah menjadi komoditi
kitapun tak tahu mau dijadikan apa anak kita nanti
akan menjadi gurukah?
akan menjadi ilmuwankah?
akan menjadi presidenkah? 
atau mungkin hanya akan menjadi kuli?

Ah...semoga ini semua tidak terjadi

Karena aku tak ingin anakku hanya menjadi sebuah komoditi
Karena ku yakin anakku layak menjadi elang,
terbang tinggi, memberi arti pada dunia, dan dalam kehormatan kelak ia akan mati
Karena anakku bukan sekedar ayam,
yang tak mampu terbang, matipun karena disembelih, dan (lagi-lagi) hanya menjadi komoditi

Para guru, kalianlah yang akan memberi arti pada anak kami
tolong...
didik anak kami
karena kalian akan menjadikan mereka "siapa",
dan bukan menjadikan mereka "apa"

Yogyakarta, 07 – 08 – 09
#hanya sebuah ungkapan kebingungan melihat semakin mahalnya biaya sekolah, tanpa jelas kualitas sekolahnya. Memangnya sekolah barang dagangan?#
www.hermawanbs. wordpress. com


Selasa, 11 Agustus 2009

Embah Surip

Piawai hati menata tatakrama,pesona pergaulan akan terasa,kala hati kaku membujur , tiada teman yang bersanding tuk bicara. dunia seakan mencela baju yang tersurat kasat mata. Pelajaran berharga datang dari seorang tua,Embah Surip namanya, lewat tembang yang sederhana "Tak gendong kemana-mana". Ketenaran seakan lenyap ditelan waktu dalam sekejap ketika usia tutup mata. Kini siapa yang paling beruntung dengan ini semua ? Kapilaiskah ? Sosialiskah ? atau bukan siapa-siapa ? Kini semua baru merasa siapa Embah Surip sebenarnya. Dengan milyaran yang telah didapat kini tinggal tergolek di liang lahat bertemankan amal ibadah yang telah diperbuat.

Sang waktu

Kala waktu selalu mengiringi,seakan tiada terasa. Badan tegak menatap kemuka tiada hambatan yang menghalang. Ketika sampai di perempatan jalan baru terasa hendak kemana kaki ini melangkah ? Duhai sang waktu, akankah terkejar yang berlalu ?