Minggu, 25 Desember 2011

Matahari 2011

Matahari 2011 tinggal sepenggal lagi
berapa tinta emas yang tertoreh di lembaran sejarah ini
mengukir relief-relief indah menghias negeri
yang tak kan terhapuskan oleh kerasnya zaman kini
ataukah bukan tinta emas tang tertoreh
kan tapi lembaran hitam kelabu anak negeri yang terdholimi
atau banyak terungkapnya kasus korupsi yang tak kunjung sepi
malah-malah makin manjadi-jadi
bak cendawan dimusin hujan, mati satu seribu bersemi

Matahari 2011 tinggal hitungan hari
apakah ini jadi intropeksi
bagi para pejabat pengelola negeri
tuk saling tak menyakiti
seperti kasus Mesuji
ataupun bentrokan di Bima antara rakyat dan Polisi
akankah ini berulang dan kembali
menghiasi lembaran sejarah ini

Matahari 2011 tinggal selangkah lagi
masihkah tangisan anak-anak dan bayi menghantam sunyi
diujung-ujung negeri kelaparan terjadi
sementara kasus century tak kunjung sepi
apakah ini negeri yang jadi idaman pemimpin kami
yang membangun negeri dengan darah, nyawa, harta dan nurani
inikah balasan penerus anak negeri
tinggal mengolah kan tapi dengan serakah ditelan mimpi

Matahari 2011 sudah dipelupuk mata
tapi tangisan ada dimana-mana
di Papua anak negeri minta merdeka
petani tembakau menghujat di jalan raya
di Mesuji rakyat menuntut haknya
di Pulau Padang ada petani berunjuk rasa
pakai menjahit mulut segala
tuk didengar aspirasinya
bahkan ada anak negeri yang membakar diri dengan rela
walau nyawa jadi taruhannya

Kan tapi semua dianggap sunyi........................
Sepi...................
hening......
tiada terjadi apa-apa....
seperti Matahari dengan berlahan menuju peraduannya
esok pagi menjelang lagi.

Minggu, 20 November 2011

Nopember di Surabaya

Nopember di Surabaya
bayang-banyang kelam tersembunyi dibalik pelupuk mata
beribu nyawa telah banyak di korbankan di bumi Surabaya
Peristiwa Yamato masih segar dalam ingatan
peristiwa di gedung kampetai tak kan pernah hilang
inilah surabaya
simbol kemenangan yang tak butuh pengakuan
ini menyangkut beribu nyawa putra pertiwi
yang sudah di telan bumi
hanya monumen yang kini berdiri
di tengah bumi surabaya

Nopember di Surabaya
kini tinggal kenangan
peristiwa di jembatan merah
jadi saksi keberanian
walau dia sudah berpengalaman di seribu medan pertemputan
kan tapi tewas di bumi surabaya

Surabaya
wajahmu sudah berubah
gedung-gedung tua jadi memori belaka
kini tergantikan dengan apartemen yang kian menjulang

Aku rindu

sengatan matahari menghujam kepala
terasa terik di telan duka
aku rindu hujan gemericik dikala senja
hawa teduh menjuntai di ufuk sana

ini musim sudah masuk penghujan
tapi panas mentari menyengat badan
air hujan dinanti belum datang
hanya mendung yang menggantang

aku rindu hembusan dingin angin barat
yang membawa sedikit uap
tuk ditorehkan pada si bumi
membawa keteduhan hati

aku rindu aroma hujan
yang datang di pagi menjelang
sambil minum secangkir kopi dari balik tirai jendela
menikmati teduh jiwa

aku rindu tetesan hujan
yang jatuh si hamparan sawah
merekahkan bumi yang gersang
oleh tikaman seribu masalah

aku rindu guyuran hujan
yang tak menyebabkan banjir bandang
kan tapi mengidupkan padi dan tanaman
membuat bernyanyi para ikan

aku rindu guyuran hujan
dimana anak-anak berlari mengejar banyangan
bermain dan bercanda
tak takut angin menerjang

aku rindu musimku yang telah hilang
oleh pemanasan global
yang desebabkan tangan-tangan kotor menrusak alam
mengakibatkan bencana datang

Senin, 10 Oktober 2011

Sedikit Waktu

Ada sedikit waktu yang terluang
adakah kesempatan untuk berjuang
mengisi yang sedikit dengan amal
menyampaikan pesan kemanusiaan

ini hariku yang tinggal tersisa
hembusan nafas masih terasa
adakah kesempatan untuk mengasah
sedikit ilmu yang masih ada

lantunan ceramah sering aku terima
tapi dimanakah pengamalannya
kalau tidak pada diri saja
atapun sanak saudara

rona wajah sudah senja
mataharipun di ujung cakrawala
sedikit sinarnya telah memerah
kini giliran sang rembulan tuk muncul menggantikanya

Sabtu, 08 Oktober 2011

Rambut Mulai Beruban

Rambut sudah beruban
Warna putih sudah menghiasi
wajah sudah tidak muda lagi
kerutan dahi mulai terlihat
bagaimana aku harus bisa menatap
hari depan yang bisa terungkap
mengerti akan makna hidup yang sejengkal lagi

ini pertanda yang sudah pasti datangnya
kan tak terelak di penghujung mata
bisakah aku mengerti
bahwa hidup ini tinggal sebentar lagi
bisakah aku memaknai
atas pertanda dari Sang Ilahi Robbi ini

Rambut sudah beruban
warnah putih sudah menghiasi
ini aku semestinya harus mengerti
akan semua pertanda ini
waktuku sudah banyak hilang
semestinya kuisi dengan perjuangan
menuju garis depan
membangun apa yang telah diberikan oleh Yang Maha Bestari.

Minggu, 28 Agustus 2011

Pembelajaran Menentukan FPB dan KPK

Siswa kelas VB SDN Bubutan III sedang belajar menggunakan alat peraga untuk menentukan FPB dan KPK dari sutu bilangan.

Teman-Teman PPL II Di SDN Bubutan III


Dari kiri yaitu ibu Ribut, ibu Yuliet, ibu Normasih dan ibu Poedji Astoeti

Sabtu, 06 Agustus 2011

Malam beranjak ke malam delapan

Malam beranjak ke malam kedelapan
Bulan Romadhon ini penuh dengan arti
Setangkup perjuangan untuk bekal nanti
Mengais pintu maaf dari Sang Ilahi
Berbalas ribuan berkah dimalam seribu bulan

Malam beranjak ke malam delapan
suara panggilan selalu menjelang
kalam ilahi slalu berkumandang
syahdu menyayat hati memenuhi panggilan
ini bulan penuh dengan rohmah
siapa yang hadir akan mendapat berkah

Malam beranjak ke malam delapan
suara dari surau saling bersautan
begitu suara adzan menjelang
dahaga lepas dari tenggorokan
bahagiapun menjemput datang

Malam berabjak ke malam delapan
masih di malam sepulh yang pertama
tantangan itu pasti ada
tuk mengasah jiwa dan raga
dahaga dan lapar pasti terasa
kan tapi kesabaran pasti kan merenda

Minggu, 26 Juni 2011

Senandung Cinta

Senandung cinta meluap dari lubuk lautan yang dalam

mereguk setangkup kerinduan yang lama terceraikan

aroma wewangian merendakan sejumput selendang kasih sayang

kuteguk anggur merah itu dan aku terbuai dalam kefanaan yang sirna

duhai bayang-bayang kepalsuan jangan kau rayu aku dengan kecantikan bulan yang merona

di peraduanku telah menunggu bidadari yang menawarkan tetangkup anggur nan ranum

menyegarkan dikala panas, mengahanggatkan di kala dingin

duhai bayang-bayang kepalsuan berapa lama dikau akan bertahan

matahari mulai terbit memancarkan sinarnya

lenyaplah dikau dari pelupuk seraut wajah

duhai bayang-bayang yang kelam bergantilah dikau dengan kecemerlangan

Karna sang kebenarnya menampaknkan wajahnya

Minggu, 19 Juni 2011

Ladang Persemaian

suara canda ,tawa,tangis menghiasi warna kehidupan tiap hari

bak simponi mengalun merdu silih berganti

menebar kerinduan untuk dijalani

tanpa itu semua seakan sepi

bak belantara hutan tanpa penguni

ketika pagi menjelang dengan rona jingga mentari diufuk timur

roda kehidupan di ulang lagi

dentang lonceng tanda untuk dimulai

untaian kata gayung bersambut menuai hikmah

menebarkan seberkas ilmu tuk membuka cakrawala

dunia apa pada genggamanmu

nilai-nilai kehidupan mulai dicurahkan

bak menyemai benih-benih di ladang yang mempesona

wajah-wajah ceria mengoda dengan kepolosannya

tangan usilpun kadang mewarnainya

antar teman kadang saling mggoda

itulah simponi pembelajaran yang ada

tuk menumbuhkan kognisi, psyikomor, atau afektif yang ada

saling mengasah di arena yang ada

di lembaga tercinta

sekolah namanya

ketika waktu terus berjalan tanpa hitungan

seakan hari-hari yang sangat menyenangkan

antar teman saling berargumen

mencari kata kesepahaman

inilah sebuah pelajaran tuk saling menghargai

di lembaga tercinta ini

semua benih kebajikan disemaikan

dipupuk dan dikembangkan

kantapi akan menjadi sirna dan hilang

tatkala ada malpratek pendidikan

oh.... semua jadi tak bermana

bak panas setahun hilang karna hujan sehari

duhai awan-awan yang diatas sana

janganlah terjadi itu semua

hancur berkeping dikalang tanah

tak bertuan dimakan durja

canda dan tawa ceria anak-anak hanya akan membawa duka

Kerinduan

Kerinduan itu ada tatkala sendiri

Kerinduan itu menghampiri tat kala sepi

Kerinduan itu ada ketika ia tiada

Kerinduan itu menemani dalam sunyi

Kerinduan itu bagaikan bayang-bayang yang menyertai

Kerinduan itu ada tat kala rasa cinta mulai bersemi

Kerinduan itu ada bersama orang-orang yang terkasih

Keinduan itu ada tatkala jantung berdetak menginginkan kebersamaan

Kerinduan itu ada tatkala masa lalu membayang

Kerinduan itu ada bersama jiwa yang melayang

Kerinduan itu ada oleh dekatnya keinginan

Kerinduan itu aroma yang dapat menyejukkan hati

Kerinduan itu pelepas rasa yang tiada tara

Kerinduan itu rasa yang dapat membangkitkan harapan

Keinduan itu jiwa yang dapat membangunkan semangkat kemajuan

Kerinduan itu akan mencekam tak kala tak kesampaian

Kerinduan itu cahaya yang membawa pesona

Kerinduan itu indah bersama para pecinta

Kerinduan itu hadir untuk membangun cita-cita

Kerinduan itu selalu ada bersama orang-orang yang pernah bersama

Kerinduan itu sesuatu yang tak lepas dari orang-ornag yang punya hati,nurani, perasaan, dan cinta

Senin, 30 Mei 2011

Kerinduan itu ada

Kerinduan itu ada tankala sendiri

Kerinduan itu menghampiri tat kala sepi

Kerinduan itu ada ketika ia tiada

Kerinduan itu menemani dalam sunyi

Kerinduan itu bagaikan bayang-bayang yang menyertai

Kerinduan itu ada tat kala rasa cinta mulai bersemi

Kerinduan itu ada bersama orang-orang yang terkasih

Keinduan itu ada tatkala jantung berdetak menginginkan kebersamaan

Kerinduan itu ada tatkala masa lalu membayang

Kerinduan itu ada bersama jiwa yang melayang

Kerinduan itu ada oleh dekatnya keinginan

Kerinduan itu aroma yang dapat menyejukkan hati

Kerinduan itu pelepas rasa yang tiada tara

Kerinduan itu rasa yang dapat membangkitkan harapan

Keinduan itu jiwa yang dapat membangunkan semangkat kemajuan

Kerinduan itu akan mencekam tak kala tak kesampaian

Kerinduan itu cahaya yang membawa pesona

Kerinduan itu indah bersama para pecinta

Kerinduan itu hadir untuk membangun cita-cita

Kerinduan itu selalu ada bersama orang-orang yang pernah bersama

Kerinduan itu sesuatu yang tak lepas dari orang-ornag yang punya hati,nurani, perasaan, dan cinta

Rabu, 11 Mei 2011

Perasaan Seorang Guru


Aku jadi guru karena panggilan hati ataukah materi

Ilmu yang mengalir dari sanubari ataukah dari jual beli

Tat kala gelar sudah kusandang

Adakah tanggungjawab di pundak kian menantang

Amanat Undang-undang bisakah kutelan

Tuk mencerdaskan anak bangsa di seluruh nusantara

Sementara di daerah pedalaman banyak yang tidak bisa membaca

lebih-lebih menulis dengan pena

Aku mengajar karena panggilan hati ataukah karena materi

Tat kala tuntutan birokrasi menyeruak dan memaksa

Administrasi ini dan itu harus jadi dalam seketika

Sementara hakekat pendidikan kian menjadi sirna

Adakah beban moral yang kian hilang

tatkala sanubari sudah dapat dibeli

Dana pendidikan kian mengalir bak air

Semakin meningkatkah mutu pendidikan dan pengajaran ataukah semakin hilang

Visi kedepan hanya lulus seratus persen tanpa memberi bekal ketrampilan

Kejujuran sudah tergadaikan oleh target semu semata ataukah menjadi nyata

Duhai ladang menhijau yang kian hilang

Domba-domba kian menjadi liar

Oleh sang gembala yang berhati lapang

Dimanakah hati gembala tuk mengarahkan domba-domba yang lapar

Lapar akan pengetahuan dan moral

Aku mengajar karena panggilan hati ataukah materi

Tatkala buaian dana bos ada dipelupuk mata

Mestimya pendidkan kian menjadi nyata

Karena dana sudah tersedia

Tidak seperti di pedalam sana

yang serba terbatas oleh sarana dan prasarana

Gurupun hanya satu ataupun dua

tertantangkah hati tak kala kebodohan menyelimuti anak negeri

Merasa bersaudarakah kita tat kala anak-anak usia sekolah ada di jalan raya tuk meminta-minta

Merasa bersaudarakah kita tat kala anak Papua atau Bima tak bisa membaca

Merasa bersaudarakah kita tat kala anak-anak gadis usia sekolah tergaidaikan kegadisannya

Ohhhh.......... hati apa yang ada tat kala aku mengajar mereka

Ohhhh.......... sanubari apa yang mengalir tak kala ilmu sampai pada mereka

Ohhhh...........keringat yang mengalir berartikah kini

Ohhhh........... aku mengajar dan mendidik dengan hati ataukah karena materi

Senin, 02 Mei 2011

Senandung Kemerdekaan

Warna lembayung itu menawan hati

Tatkala hati terperikan, sedandung serunai menyejukkan hati

Serumpun bambupun ikut bergoyang oleh belaian sang bayu

Lembut penuh kasih dan sayang

Onak dan duripun tak terasa

Walau galau selalu mendera

Burung pipit terbang bebas tiada batas

Mencari belaian sang awan yang mempesona

Walau kemerdekaan itu mahal harganya

Banyak yang mencari walau nyawa taruhannya

Tak terperikan beribu-ribu nyawa bertaburan tuk meraihnya

Duhai ilalang yang bergoyang

Tiada hambatan tuk melakukannya

Bak merpati yang terbang bebas berkelana

Gemericik sungai mengalir lembut

Membawa ikan-ikan bebas berenang

tiada takut ataupun kalut

Oleh halang rintang yang terbentang

Kemerdekaan serasa indah bak cahya kemilau di ufuk timur

Membawa kedamaian sampai menjelang senja

Warna violet bergelajut disudut langit diujung barat

Menawarkan keindahan yang tiada dapat tergantikan

Nyanyian camar di tepi pantai

Menambah syahdunya kehidupan

Senin, 11 April 2011

Rasa Kejenuhan

Melihat kenyataan yang ada memang kadang kita jenuh dengan keadaan yang ada, akan tetapi kalau kita tenggok lebih dalam, akankah Allah lelah mengurus ciptaan-Nya ? apakah Allah tidak dan butuh istirahat untuk mengurus semua ciptaan-Nya ? tentu jawabnya " Tidak ". Allah dengan segala kekuasaa-Nya, Maha Kasih-Nya selalu peduli dan takkan lelah untuk mengurus semua ciptaan-Nya. Inilah yang menyebabkan dunia masih berputar pada porosnya, matahari masih terbit dari timur, meskipun perang di bumi ini tiada hentinya, silih berganti dari suatu negara ke negara lainnya.

Itu semua masih dalam sekup dunia, sekarang coba kita tenggok diri kita sendiri. Ada yang lebih dan ada yang kurang pada diri kita, apakah hal ini kita sadari ? kalau hal ini kita sadari seberapa jauhkah diri kita ini bermanfaat bagi masyarakat sekitar kita ? dapatkah kita menjadi contoh bagi putra-putri kita ? dapatkah kita mengontrol emosi kita ? inilah pertanyaan yang tampaknya konyol ! karena untuk menjawabnya butuh kejujuran dari hati nurani yang dalam.

Memang marah itu hal yang wajar dan manusiawi kalau dapat menempatkan marah pada tempatnya. Karena marah merupakan penyaluran energi, bak gunung yang mau meletus kalau tidak meletus justru akan mengakibatkan hal yang lebih buruk dikemudian hari. Nah disini butuh pengendali. Pengendali itu tiada lain adalah tawadhu' pada sang Pencipta, tawadhu' pada ciptaan-Nya. Semua makhluk Allah menjadi ibro bagi kita semua. Kalau semua itu tidak kita lakukan maka kejenuhan dalam dada selalu muncul dan mengoda kita untuk berpurus asa. Inilah yang sangat berbahaya kerena dapat menggerogoti iman kita.

Minggu, 03 April 2011

Berfikir Realistis

Memang untuk berfikir realistis tentang diri kita sendiri serasa sulit, ibaratnya dalam bahasa Jawa "Ndelok Gitok'e Dhewe " Nah siapa yang dapat melihat dirinya sendiri, baik semua kekurangannya maupun kelebihanya maka ia akan mengenal pribadinya secarah utuh . kalau sudah tau semuanya maka ia akan dapat mengendalikan emasi, perilaku, dan dapat membaca keadaan. inilah yang dikatakan bahwa barang siapa yang dapat mengenal dirinya sendiri maka ia akan mengenal Penciptanya.

Pada tahap inilah manusia sering tergelincir oleh egoisme yang mengekangnya. rasa sombong, rasa punya setuatu yang lebih dari yang lainnya, inilah yang menyebabkan manusia sulit untuk menghargai orang lain.

Manusia punya perasaan, kalau diri kita merasa sakit maka orang lainpun juga mengalaminya. Sehingga dari rasa tepo sliro, saling menghargai orang lain akan timbul dan ada rasa simpati terhadap orang lain yang mengalami musibah atau lainnya. Inilah sifat alamiah sesungguhnya manusia.

Berkaitan dengan rasa relistis tadi maka manusia akan selalu berfikir relaistis tentang keadaannya dan keadaan orang lain, tidak mudah emosi dan dapat membaca keadaan.

Sabtu, 02 April 2011

Energi Positif

Kebahagian kalau dibagi terhadap sesama teman,saudara, dan handai tolan menjadi energi positif yang dapat membangkitkan semangat hidup dan berjuang bagi semuanya. inilah yang dinamakan penyaluran sumber energi yang dapat menjadi stimulus bagi orang lain dan menjadi motivasi bagi orang lain. Contoh nyata energi positif adalah perjuangan Muhammad SAW yang menjadi inspirasi bagi umatnya untuk selalu berjuang menghadapi kehidupan ini walau beratnya tak terkira, karena energi positif yang tersalurkan memberikan motivasi untuk selalu berjuang. Begitu pula bagaimana Bill Gate yang pada awalnya dikatakan anak autis kini menjadi orang yang sukses secara materi dengan mengusai Microsof corporotion. Dan masih banyak orang-orang yang pada awalnya terpuruk kemudian bangkit dari keterpurukkannya dan akhirnya menjadi pemenang dari kehidupan ini

Sabtu, 05 Maret 2011

Arti Seorang Teman

Jumat, 4 Maret 2011

Aku mulai berfikir realistic tentang arti sebuah pertemanan, ketika seseorang yang kita anggap sebagai teman ternyata mulai menjauh dari kita, maka aku kita tidak mempunyai hak apapun untuk menghalang-halanginya. Cuma kita perlu bertanya dalam hati apa penyebabnya, apakah dari diri kita sendiri atau dari teman kita sendiri ?. Tetapi pada hakekatnya semua itu menjadi instropeksi bagi diri kita masing-masing. Bahwa dalam sebuah pertemanan kita tidak boleh masuk dalam privasi seseorang tanpa diminta oleh orang tersebut. Yang menjadi tanggung jawab kita dalam pertemanan adalah saling menjaga satu sama lain tentang privasi tersebut, saling mengormati dan menjaga omongan agar tidak menyingung perasaan masing-masing.

Memang dalam hidup bermasyarakat kita tidak dapat hidup sendiri, teman yang baik adalah teman yang dapat diajak untuk berkomunikasi tentang hal-hal yang positif dalam kehidupan ini, atau dengan kata lain teman yang baik adalah teman yang dapat diajak untuk sharing/curah pendapat. Bukan untuk mengurusi masalah pribadi teman tersebut. Akan tetapi apabila kita dimintai pendapat tentang masalah pribadi, kita hanya sebatas memberi masukan tanpa adanya tekanan. Semua keputusan terakhir ada pada teman kita tersebut. Inilah yang harus kita camkan dalam hidup bermasyarakat atau bersosial.

Dalam berteman kita juga harus tahu batas-batasnya, mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Terutama bila teman kita tersebut berlainan jenis, jelas di sini kita harus dapat menjaga kehormatan teman kita tersebut dan dapat menjaga perasaan kita masing-masing sebatas teman. Tidak boleh lebih.

Inilah yang saya katakan sebagai pemikiran realistic dari pertemanan atau dengan kata lain sebuah persahabatan. Sehingga kita tidak mempunyai beban yang berlebihan apabila teman kita meninggalkan kita atau bahkan menjauh dari kita untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan karena timbulnya isu-isu yang bisa menimbulkan fitnah. Justru kalau itu yang kita lakukan malah akan menimbulkan kabaikan magi kita masing-masing. Memang dalam hal ini perlu adanya keterbukaan diantara teman tersebut, akan tetapi kalau teman tersebut bersifat tertutup maka kitapun tidak boleh memaksanya untuk megatakan sesuatu yang menyebabkan ia menjauh dari kita. Hal itu menjadi hak teman kita tersebut.

Teman yang baik adalah teman yang dapat saling mendukung dalam kemajuan, bukan saling menjatuhkan apabila teman kita tersebut mengalami sebuah kemajuan, bahkan kita ditutut untuk membantu apabila teman kita tersebut mengalami sebuah kesulitan, apalagi kalau teman tersebut lagi susah maka kita harus dapat memberikan sebuah motivasi untuk bangkit mengatasi permasalan yang dihadapinya.

Jumat, 25 Februari 2011

PSSI 20011

Hujan Kritik menghujam bertubi-tubi
Bak serangan lawan ladam pertandingan
Wajah tercoreng tak terperikan
Bagai nyanyian yang yang menyayat hati

Harga diri bangsa digadaikan
Oleh segelintir manusia yang durjana
Masuk penjara bukan pelajaran
Malah jadi mahkota di kepala

Suara rakyat suara Tuhan
Itu sudah menjadi slogan
Kan tetapi bagi penggila jabatan
Itu semua bukan sindirin

Kamis, 03 Februari 2011

Wajah dibalik topeng

Denyut nadi kian kencang
bak daging yang tercincang-cincang
persoalan kian menumpuk dan meradang
bagaikan skumpulan srigala yang berperang

bangkai busuk kian tersimpan
entah menyebar ataupun hilang
lambat laun pastilah akan terang
walau disumbal dengan seribu gombal

wajah-wajah yang tertutup topeng
bermain api mengorbankan hati
tak peduli seribu muka yang hilang
ataupun sirna ditelan masa

wajah murka dibalik topeng
tampak seyum dalam tarian
geliat dada tak terasa
walau sesak seribu nyawa

wajah durjana disimpan muka
topeng tertata dalam roman duka
wajah bengis dipoles ramah
menutup aib yang kian merajalela

anak negeri kian tersiksa
oleh duka kemiskinan melanda
gapai asa yang tak sampai
walau cita sribu di atas kepala

Jumat, 21 Januari 2011

Ali Akbar Hasemi Rafsanjani

Pada tanggal 10 Januari 2011 ini aku mendapat berita duka dari Mas Pamuji bahwa putra dari Mas Imam meninggal dunia, antara percaya dan tidak hatiku bergetar saat menerima telepon dari Mas Pamudji tersebut. Ia masih muda , cakep , cekatan dan trampil . Inilah yang kadang kala aku tak habis pikir, rahasia apa yang akan diajarkan oleh Yang Maha Perkasa, Sang Pemilik kehidupan. Ali ini sudah lama sekali aku tak ketemu karena ia kuliah di Pontianak ikut dengan Budenya yang ada di sana, aku sendiri jadi tercengang mendengarnya karena berita yang aku terima bahwa ia kecelakaan menabrak truk yang berhenti karena rusak pada malam hari dari Mentawa menuju Pontianak, sungguh diluar dugaanku anak semuda itu sudah dipanggil oleh sang Maha Pemilik Kehidupan. Innanillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga Allah menerima semua amal kebajikanya selama ini. Kerena aku tau bahwa ia anak yang selau terenyuh hatinya bila melihat saudaranya menderita dan denga ringan tangan ia akan memberikan bantuan semampunya. Inilah salah satu perilaku yang dicontohkan Mas Imam selaku guru silat kami diperguruan.

Ali, selamat jalan, engkau mendahului kami, semoga lapang jalanmu, kamipun akan menyusulmu untuk bertemu dengan Sang Kholik dan para maksumin. Doa kami senantiasa untukmu.

Senin, 10 Januari 2011

Engkau adalah kawan

Bagaimanapun engkau adalah kawan
Kawan belajar dalam kehidupan
Berbagi cerita atau kata-kata
Walau kadang salah kata itu biasa

Bercanda tawa itu hiburannya
Makan hati jangan sampai terbawa
Saling bantu itu menunya
Tuk perekat tali silahturahmi dari hati ke hati

Bagaimanapun engkau adalah kawan
Walau kadang kala menjengkelkan
Kan tapi sangat menggemaskan
Dalam tutur kata atau perbuatan

Bagaimanapun engkau adalah kawan
Tuk saling mengenang
Saling berbagi kegundahan
Yang kadang menghadang

Bagaimanapun engkau adalah kawan
Saling mengisi kekurangan
Tak lebih atau kurang
Hanya sebatas kemampuan

Dana Yang Termakan

Hati nyinyir tanpa kuatir
Dana sekian juta habis dimakan belibis
Kaki rapuh seakan kokoh bak beton pencakar langit
Semua seakan terantai oleh birokrasi pengecil hati

Mau apa dikata
Pemotongan honor sudah biasa
Pakai surat pernyataan segala
padahal itu kamufase belaka

Dari atasan sampai bawahan tak mengaku semua
Takut terkena getahnya
Padahal rantai itu sudah lama membelenggu
Dari leher sampai dagu

Hati runyam tak bisa bilang
Pemotongan terus berselang
Walau kecil nilai nominal
Kan tapi kebiasaan tak bisa hilang

Dana pendidikan terus menguyur
Sang pengatur bagai ikan dapat umpan
Tiada henti tuk melahap
sampai perut kenjang bak keranjang