Rabu, 02 September 2009

SEBUAH TANTANGAN UNTUK PERUBAHAN DIRI

SEBUAH TANTANGAN UNTUK PERUBAHAN DIRI

Dalam awal Ramadhon 2009 ini terasa banyak tantangan yang harus aku hadapi, hal itu bermula ketika rapat dinas di tempat aku bekerja yaitu ketika Kepala Sekolah menjelaskan tentang format absen siswa yang ikut dalam tambahan pelajaran. Beliau mengatakan tentang perlunya absen itu sebagai laporan penggunaan dana Bos. Aku menanyakan tentang format tersebut yang harus di tulis tangan dan namanya siswa kalau dapat tidak urut atau dari hari yang saru dengan hari lainya tidak sama. Mengapa harus demikian ? ya katanya itu keotentikan laporan. Ini yang aku anggap aneh, untuk sebuah pelaporan yang serba canggih ini kita masih menggunakan tulisan tanggan. Singkat kata rapat tersebut jadi tegang dan ramai karena aku menanyakan secara detail tentang perintah siapa hal itu dan ada tidaknya juklak dan juknisnya. Pak Manto sebagai TU yang membuat laporan tersebut mengatakan tidak ada , tapi hal itu atas saran dari orang inspektorat. Ini yang tambah aneh bagi saya, Pak Manto malah menyatakan bahwa ini kan hanya fiktif tapi kenapa dipersoalkan. Ini menurut saya pemikiran yang sangat pendek, bahkan Bu Yamirah sebagai Kepala sekolah malah menyatakan bahwa kita sebenarnya diajari mbujuk tentang pelaporan-pelaporan selama ini. Sebelum guru diajari mbujuk, Kepala sekolah terlebih dahulu yang diajari mbujuk oleh suatu system yang lebih tinggi. Maka dengan sikapku yang keras terhadap masalah tersebut, maka ada beberapa temanku yang berpandangan negative terhadap aku, inilah yang aku anggap sebagai tantangan.
Aku sekarang ini berada pada suatu system yang pandai membuat kamuflase tentang laporan, yang tadinya “A” dapat berubah menjadi “B” karena untuk kepentingan yang sifatnya duniawi. Ini yang mungkin menyebabkan aku sangat tidak disukai oleh beberapa teman sekerja. Aku memang terlalu frontal dalam menanggapi hal-hal semacam itu, karena aku memganggap ada beberapa orang yang mencari keuntungan pribadi tanpa menhiraukan teman yang lainnya, bahkan teman yang lainya dianggap sebagai batu sandungan saja, sehingga mereka membuat kasak-kusuk tentang orang-orang yang tidak sejalan dengan mereka, termasuk aku. Aku dianggap sebagai tukang protes dan tidak peduli kepada teman, kalau menggunakan istilahnya Pak Toha bahwa aku kurang memanusiakan manusia, padahal aku sendiri sangat menyayangan dengan sumpah ketika ia diangkat sebagai PNS, sumpah untuk bekerja dengan sebaik-baiknya dan menurut undang-undang yang berlaku dan tidak bertentangan denga nilai-nilai Pancasila. Tapia apa yang terjadi setelah mereka jadi pegawai negeri ? seakan semua yang telah diraih menjadi halal semuanya.
Inilah tantanganku sekarang ini,mampukah aku menghadapi hal tersebut. Untuk sementara ini aku disarankan oleh temanku yang bernama Pak Nardi untuk lebih bersabar atau bahkan lebih baik diam menghadapi persoalan yang ada. Memang ada beberapa teman yang kasak-kusuk tentang aku, mereka selalu menilai negative terhadap semua yang aku katakan dan bahkan aku lakukan. Bahkan Bu Supi Lestari selalu mengigatkan aku untuk diam tidak berkomentar apabila ada rapat, percuma usul kalau usul itu tidak diperhatikan, yang berwenang toh bukan kita,kata Bu Supi, kedewasaanku benar-benar di uji di tahun ini, dulu mereka semua adalah teman sekarang mereka balik menusuk dari belakang terhadapku. Inilah dunia kerja. Anehnya ini terjadi di dunia pendidikan yang nota bene tugasnya mendidik generasi muda,generasi penerus bangsa. Nilai-nilai kejujuran sudah tidak laku, nilai-nilai akuntabilitas idak ada gunanya lagi. Padahal mereka semua adalah muslim. Tapi bagaimanapun juga aku masih punya harapan besar tentang hati nurani, aku merasakan kegelisahn mereka, aku lihat mereka juga tidak tenang dengan semua sepak terjangku. Aku sendiri membatasi diri untuk bercakap dengan mereka, bahkan mereka kalau ada aku datang ,satu persatu mereka pergi. Ini aku anggap sebagai tantangan tersendiri untuk membuktikan kinerjaku. Semoga aku dapat mengatasi ini semua. Aku tidak dapat mengadu pada siapa-siapa kecuali hanya pada Sang Kholik. Semoga mereka menuai apa yang mereka tanam selama ini,hanya Allah Yang Maha Tahu. 
Pada hari Jumat, 28 Agustus 2009 ketika aku lagi asyik mengajar Pak Samidi teman kerja yang mengajar kelas III B menghampiriku dan mengajak ngobrol tentang kepindahan Bu Yamirah sebagai Kepala Sekolah dan Bu Sri Purwaningsih. Aku jadi tertegun,kenapa secepat itu dan ada apa hal itu terjadi ?,tanyaku dalam hati. Pak Samidi mengatakan bahwa semua itu terjadi sesuai dengan apa yang telah beliau tanam selama ini. Aku sendiri baru tahu informasi itu dari Pak Samidi pada hari itu juga, sebelumnya aku tak tahu sama sekali. Hari berikutnya berita itu semakin di kuatkan oleh Bu Sri sendiri, Bu Yamirah dan Bu Ria. Bahkan Pak Samidi menjelaskan kalau Bu Yamirah di pindah ke daerah Dupak, sedang Bu Sri dipindah menjadi Kepala sekolah di daerah Manukan, Tandes. Sedangkan yang menjadi kepala Sekolah di SDN Bulak Banteng I-263 masih belum tahu,Cuma ada bocoran dari Bu Ria bahwa yang menjadi Kepala Sekolah adalah Bapak Imam 
Ini semua tidak di perkirakan sebelumnya oleh semua teman-teman, termasuk aku, cuma aku berfikir kan pekerjaan Bu Yamirah di Bulak Banteng masih ada yang belum selesai yaitu mengenai Rehab gedung Kelas VI yang baru saja dimulai. Tapi apa dikata ini semua sudah terjadi dan keputusan dari Diknas Kota tak dapat diganggu gugat. Inilah yang sering aku pikirkan bahwa semua itu tiada yang abadi, silih berganti, tidak selamanya sesuatu itu ada diatas, ada waktunya untuk di bawa juga. Teman-teman mulai ada kasak-kusuk membicarakan tentang kepindahan Bu Yamirah dan Bu Sri. Aku sendiri tidak terlalu memikirkan, Cuma sebagai bahan perenungan untuk selalu bekerja dan bekerja sebaik-baiknya mendidik anak-anak, tak peduli siapapun yang menjadi Kepala Sekolahnya.
Dua pilar utama di Bulak Banteng akan pindah tugas, bagaimana kelanjutanya aku sendiri tidak tahu, trik apa yang akan dilakukan oleh teman-teman terutama orang-orang oportunis yang hanya menggunakan kesempatan untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Aku sendiri ingin menjadi orang yang merdeka yang tidak terikat dengan kepentingan-kepentingan yang semu. Disini yang perlu diperjuangankan adalah kepentingan anak-anak, jagan sampai hak-hak mereka dikebiri,di tekan dan di intimidasi. Disini aku tidak dapat mengaharapkan bantuan dari teman-teman, yang mungkin mereka sendiri tidak terlalu berfikir jauh seperti aku.
Tanggal 1 September 2009 sekolah kami mengadakan rapat, dalam rapat tersebut Bu Yamirah memberi penjelasan tentang kepindahan beliau di tempat tugas yang baru. Beliau meminta maaf kepada semua teman-teman selama beliau bekerja di SDN Bulak Banteng I ini. Beliau juga memberikan SK kepada tiga teman yang akan mendapat tugas tambahan baru yaitu Bendahara pengelolaan dana BOS di pegang Bu Enok, Bendahara Gaji yaitu Bu Ria dan PPTK di pegang oleh Bu Winartik.Dalam kesempatan itu juga Bu Sri Purwaningsih juga meminta maaf pada teman-teman bila selama ini beliau juga banyak salah pada teman-teman, karena Bu Sri Juga mendapat tugas baru menjadi Kepala Sekolah di daerah Manukan,tepatnya SDN Manukan III.

Kamis, 20 Agustus 2009

CERMIN PENDIDIKAN

Ketika pendidikan hanya menjadi sebuah komoditi

tak ada bedanya ia dengan barang kebutuhan sehari-hari
orang selalu mencari, dan bahkan rela membayar dengan harga tinggi
karena sang penjual pun tak pernah mau rugi

Ketika pendidikan tak lebih dari sebuah komoditi
ia akan menyerupai sebuah proses produksi
"bawakan kami bahan bakunya, maka akan kami jadikan ia produk yang dicari-cari"
begitu mungkin pikiran mereka,
para guru yang tak lagi mendidik dengan hati nurani

Karena pendidikan sudah menjadi komoditi
kitapun tak tahu mau dijadikan apa anak kita nanti
akan menjadi gurukah?
akan menjadi ilmuwankah?
akan menjadi presidenkah? 
atau mungkin hanya akan menjadi kuli?

Ah...semoga ini semua tidak terjadi

Karena aku tak ingin anakku hanya menjadi sebuah komoditi
Karena ku yakin anakku layak menjadi elang,
terbang tinggi, memberi arti pada dunia, dan dalam kehormatan kelak ia akan mati
Karena anakku bukan sekedar ayam,
yang tak mampu terbang, matipun karena disembelih, dan (lagi-lagi) hanya menjadi komoditi

Para guru, kalianlah yang akan memberi arti pada anak kami
tolong...
didik anak kami
karena kalian akan menjadikan mereka "siapa",
dan bukan menjadikan mereka "apa"

Yogyakarta, 07 – 08 – 09
#hanya sebuah ungkapan kebingungan melihat semakin mahalnya biaya sekolah, tanpa jelas kualitas sekolahnya. Memangnya sekolah barang dagangan?#
www.hermawanbs. wordpress. com


Selasa, 11 Agustus 2009

Embah Surip

Piawai hati menata tatakrama,pesona pergaulan akan terasa,kala hati kaku membujur , tiada teman yang bersanding tuk bicara. dunia seakan mencela baju yang tersurat kasat mata. Pelajaran berharga datang dari seorang tua,Embah Surip namanya, lewat tembang yang sederhana "Tak gendong kemana-mana". Ketenaran seakan lenyap ditelan waktu dalam sekejap ketika usia tutup mata. Kini siapa yang paling beruntung dengan ini semua ? Kapilaiskah ? Sosialiskah ? atau bukan siapa-siapa ? Kini semua baru merasa siapa Embah Surip sebenarnya. Dengan milyaran yang telah didapat kini tinggal tergolek di liang lahat bertemankan amal ibadah yang telah diperbuat.

Sang waktu

Kala waktu selalu mengiringi,seakan tiada terasa. Badan tegak menatap kemuka tiada hambatan yang menghalang. Ketika sampai di perempatan jalan baru terasa hendak kemana kaki ini melangkah ? Duhai sang waktu, akankah terkejar yang berlalu ?

Kamis, 02 Juli 2009

CINTA ITU MEMANG INDAH

CINTA ITU MEMANG INDAH

Cinta itu memang indah,tetapi tak selamanya cinta itu memberi kehangatan,kadang kala ada aroma yang menghiasi memberi nuansa yang berbeda dari biasanya dan setelah itu kembali pada keadaan semula kalau dapat menempatkan cinta itu pada tempatnya, tetapi apabila salah menempatkannya akan mengakibatkan sesuatu yang sangat fatal dan menghancurkan cinta itu sendiri. Bangunan yang semulah kokoh akan hancur berkeping-keping dan menyisakan onak dan duri yang amat tajam. Kehangatan yang semula bersemayam dalam hati akan menjadi beku bak es di kutub utara. Yang semula indah menjadi kusam,remang-remang bahkan mejadi gelap tak tembus pandang.
Cinta menjadi inpirasi bagi setiap manusia untuk berbuat sesuatu yang kadang kala sangat menakjubkan, dan kalau kita dapat menempatkan cinta itu pada tempatnya maka yang terjadi sungguh sangat luar biasa karena dengan cinta tersebut kita dapat merubah dunia yang tadinya gersang manjadi subur, bak tanah yang dapat menumbuhkan aneka tumbuhan dengan guyuran air yang sangat menyejukkan.
Cinta itu sendiri ada bumbu-bumbu yang selalu mengikutinya,salah satunya adalah rasa cemburu yang berlebihan,kalau ini yang terjadi bukan cinta yang hangat yang didapatkanya,tetapi justru malapetaka yang didapat. Karena dalam bermasyarakat kita membutuhkan cinta yang dapat meneduhkan suasana,dengan cinta kita dapat mengendalikan keadaan, dengan cinta kita dapat menabur benih-benih kasih sayang sesama manusia, yang akhirnya kita dapat membangun sebuah masyarakat. Meskipun dalam cinta itu sendiri kita banyak berkorban, kerena cinta sendiri tidak membutuhkan imbalan atau balasan,bak matahari yang senantiasa menyinari dunia.
Dalam dunia pendidikan, cinta sangat berperan besar untuk melahirkan manusia-manusia yang unggul dan punya dedikasi yang tinggi. Karena lewat pendidikan yang dilandasi oleh cinta inilah karakter bulding dari anak-anak dapat kita bentuk,karena disini ketulusan yang menjadi sandaran utama dalam mentransfer ilmu yang bermartabat,bukan untuk meraih sesuatu yang sifatnya hanya sementara.Pendidikan tanpa dilandasi dengan cinta akan berubah menjadi sesuatu yang sangat membahayakan bagi perkembangan anak itu sendiri. Sekarang yang jadi masalah adalah apakah guru-guru kita memiliki apa yang dinamakan “Cinta” tersebut. Kadang kita lihat kejadian yang sangat memperihatinkan dengan dunia pendidikan kita,demi meraih nilai yang tinggi kita melakukan perbuatan yang justru merusak nilai-nilai kejujuran.Atau kadang kita lihat manusia yang terikat pada folmalitas hukum yang baku tanpa memahami hukum atau peraturan itu sendiri. Adakalanya orang lebih takut jabatanya di cabut daripada mempertahankan nilai-nilai idealisme dalam menegakkan kejujuran dalam membentuk karakter bulding yang berlandaskan cinta tadi.
Sebenarnya banyak sekali guru-guru kita yang masih memiliki cinta dalam mendidik siswa-siswany dengan ketulusan yang amat dalam,cuma orang-orang semacam itu selalu terpinggirkan oleh suatu sistem yang berkembang di lingkungannya. Mereka bak mutiara yang terpendam yang suatu saat akan muncul kepermukaan tak kala suasana sangat memungkinkan untuk kemunculannya.

RUMAH TANGGA

RUMAH TANGGA

Rumah tangga mempunyai falsafah yang amat dalam. Rumah mempunyai arti suatu tempat yang sangat nyaman untuk di tempati,suatu tempat untuk berteduh,suatu tempat untuk berlindung,suatu tempat untuk mendapatkan ketenangan,kenyamanan, dan kebahagiaan lahir dan batin. Sedangkan kata tangga mempunyai arti suatu titian yang harus dilewati tahap demi tahap untuk sampai pada suatu puncak yang disebut rumah .Artinya tangga itu berawal dari dasar,dari nol, dari sesuatu yang tadinya rendah menuju suatu yang lebih tinggi. Sehingga kita dapat mencapai puncak tersebut melewati titian setahap demi setahap.Oleh karena itu untuk membangun sebuah rumah tangga yang ideal adalah harus mempunyai dasar yang kuat, mempunyai pondasi yang kokoh. Bahan-bahan pembuat rumah tersebut dipilh yang kuat dan tidak rapuh. Itulah nilai filosofinya membangun sebuah rumah tangga.
Sekarang pada tataran teoritis membangun sebuah rumah tangga,yaitu sebuah rumah tangga dibangun atas beberapa dasar atau elemen yaitu : Kepercayaan,kejujuran,tanggung jawab dan saling pengertian diantara kedua belah fihak,yaitu si pembangun rumah tersebut.Kalau itu semua ada dalam bangunan rumah tangga tersebut maka yang namanya cinta akan nampak dari dasar atau elemen tersebut. Tentu saja disini tidak boleh meninggalkan kaidah syariat agama yang menjadi landasan pokok dalam berumah tangga.
Kepercayaan menjadi modal utama karena dari kepercayaan itulah kedua belah fihak yaitu suami dan istri akan merasa tenang dan nyaman ketika kedua belah fihak berada saling berjauhan,karena masing-masing percaya bahwa pasangannya tidak akan berbuat macam-macam diluar koridar rumah tangga yang telah disepakati. Kalau ada sedikit saja rasa tidak percaya yang timbul dari salah satu pasangan maka benih-benih ketidak percayaan tersebut akan dapat menghancurkan bangunan yang kokoh apapun bahan dan bentuknya.
Kejujuran menjadi landasan yang utama kedua karena dengan kejujuran itulah saling percaya dapat dibangun dengan mudah. Dengan kejujuran tersebutlah rumah tangga akan dapat di bangun setahap demi setahap. Kejujuran merupakan pilar kedua setelah kepercayaan. Kalau ada salah satu pasangan yang tidak jujur dalam membangun rumah tangga tersebut maka rumah tangga tersebut akan sulit dibangun dengan kokoh.
Tanggung jawab merupakan pilar yang ketiga dalam membangun rumah tangga, karena dengan rasa tanggung jawab dari masing-masing pasangan tersebut akan tercipta kondisi yang harmonis,sejuk,damai meskipun badai yang menerpa rumah tangga itu datang bertubi-tubi.Disamping itu tanggung jawab merupakan karakter yang harus dimiliki oleh tiap-tiap pasangan,tetapi disini tidak ada saling mendominasi antara satu fihak terhadap fihak yang lain,melainkan harus adanya kerja sama yang sinergi antara kedua belah fihak.
Saling pengertian merupakan pilar yang ke empat dari elemen yang utama tersebut. Sebenarnya saling pengertian akan terbangun apabila ada saling tanggung jawab tadi. Tapi disini saling pengertian adalah memahami kekurangan dan kelebihan dari pasangan masing-masing dan tidak mempersoalkan dari kekurangan yang ada. Semua masalah diatasi bersama dengan adanya saling pengertian. Akan tetapi saling pengertian ini sulit terwujud apabila ada salah satu fihak yang ingin mendominasi atau ingin mengendalikan fihak lainnya,atau dengan kata lain ada salah satu fihak yang ingin menang sendiri. Saling pergertian dapat diartikan juga yaitu saling melengkapi akan kekurangan masing-masing dan saling melindungi apa yang menjadi hak dan kewajibannya masing-masing.
Agama merupakan landasan utama dalam membangun rumah tangga. Karena dari situlah syareat lahir,aturan-aturan lahir yang sangat sesuai dengan fitra manusia. Manusia mempunyai dedikasi yang tinggi karena ia sangat teguh dalam memegang prinsip keberagamaannya. Untuk itu agama adalah kunci utama dalam berumah tangga. Manusia akan mempunyai sandaran ketika rumah tangganya mengalami suatu problem yang pelik. Yaitu ia akan kembali pada Allah S.W.T,tidak pada yang lainya, selain Allah.
Dengan prinsip-prinsip itulah maka saya beranikan diri untuk membangun bahtera rumah tangga.Meskipun pada awalnya banyak sekali kendala yang saya hadapi. Baik yang bersifat interen maupun yang bersifat ektern. Kerena saya punya keyakinan yang melandasi keberanian tersebut yaitu agama yang saya yakini.
Disamping itu saya punya prinsip bahwa dalam hidup saya yang sekali ini saya harus dan harus menikah cukup sekali,meskipun agama yang saya yakini membolehkan menikah lebih dari satu,tetapi saya sendiri mempunyai pertimbangan lain berdasarkan pengalaman dan perjalanan hidup dari keluarga besar kedua orang tuaku. Ada juga pertimbangan lain yaitu rasa keadilan yang belum tentu dapat aku jalankan dalam kehidupan ini.
Saya menyadari sepenuhnya bahwa setiap wanita dalam hati kecilnya tidak ada yang mau berbagi dalam urusan suami. Ia berpendapat bahwa suami adalah miliknya seorang. Memang ada beberapa wanita yang mau dimadu tetapi prosentasinya sangatlah kecil,dan itu hanya dilakukan oleh wanita-wanita yang luar bisa serta si suami juga seorang yang luarbiasa dalam menjalani kehidupan dengan penuh rasa keadilan.
Aku sendiri tidak mempunyai pemikiran atau keinginan untuk mempunyai istri lebih dari satu. Hal itu atas dasar kesetiaan yang ada pada istriku. Kami awalnya berangkat dari nol,kami tidak punya apa-apa,kami hanya punya apa yang melekat pada badan. Atas dasar itulah aku memandang betapa setianya istriku meskipun kami dalam keadaan yang serba kekurangan. Kami mengawali sesuatu itu dengan keadaan yang serba sulit. Kami pada awalnya tidak saling kenal,akan tetapi dalam waktu yang singkat kami harus hidup berumah tangga, kami sendiri tidak mempunyai modal yang cukup,modal kami adalah apa yang saya sebutkan diatas.

Kesetiaan itu sendiri akan muncul dari kepercayaan yang ada lebih dulu.Salah satu buah dari cinta itu adalah kesetiaan,nah kadang-kadang kesetiaan ini pulalah yang dapat menimbulkan rasa cemburu,saking setiannya pasangan suami istri,maka kalau salah satu pasangannya memperhatikan sesuatu yang bukan istrinya maka rasa cemburu itu akan muncul secara alamiah. Inilah yang saya alami ketika banyak waktu yang aku gunakan di luar rumah. Hal itu merupakan kewajaran yang timbul dari kesetiaan. Cuma rasa cemburu yang berlebihan juga dapat menghacurkan bahtera rumah tangga yang sudah dibangun. Disini membutuhkan pertimbangan rasional yang seimbang, dalam hal apa rasa cemburu itu perlu ditampilkan ? karena rasa cemburu yang berlebihan akan mematikan kreatifitas seseorang dalam mengembangkan karier ataupun bakat-bakat yang lainnya.

Minggu, 28 Juni 2009

KELAS 4A DIMASA PANDEMI

Kondisi pandemi yang hampir satu tahun ini menyebabkan pembelajaran dilakukan 100 % melalui daring. Anak-anak hanya bisa bertemu gurunya mel...